Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Saturday, November 6, 2010

PERKARA-PERKARA ANEH TAPI BENAR YANG TERDAPAT DI DALAM AGAMA SYIAH

( DISALIN DARI http://www.hakekat.com/ DI BAWAH TAJUK ‘ANEH TAPI NYATA’ DENGAN SEDIKIT PINDAAN )

1. Batasan aurat

Karaki berkata bila kamu menutup kemaluanmu maka benar-benar telah menutup aurat (Al Kaafi 6/501 Tahdzibul Ahkam 1/ 374), sedangkan punggung, yang diangap aurat adalah lobang dubur, bukan dua punggung, dan paha juga bukan termasuk aurat.

Shodiq AS berkata “paha tidak termasuk aurat”, bahkan Imam Al Baqir As telah mengecat auratnya dan membalut lubang kemaluannya (Jamial Maqosid Lilkaraki 2 / 94. Al Mu’tabar karangan Al Hulli 1 / 222 Muntaha Tolab 1/39, Tahrirul Ahkam1/202,semuanya karangan Al Hulli Madarikul Ahkam 3/191)

Abu Hasan Al Madhi : “bahwa aurat itu hanya ada dua yaitu lubang depan dan lubang belakang, lubang belakang sudah ditutup oleh punggung, apabila kamu telah menutup keduanya maka berarti telah menutup auratnya, karena selain itu bukan tempat najis, maka bukanlah aurat, seperti betis”.( Al Kaafi 6 / 51, Tahzibul Ahkam 1/374 Wasa’ilusyiah 1/365 Muntaha Tolab 4/269 Al Khilaf karangan Tusi 1/396).
Dari Abu Abdullah As berkata: “ paha tidak termasuk aurat” (Tahdhibul Ahkam 1/ 374, Wasa’ilusyiah jilid 1 hal 365).


2. Kotoran para imam menyebabkan masuk surga

Kotoran dan air kencing para imam bukan sesuatu yang menjijikkan dan tidak berbau busuk, bahkan keduanya bagaikan misik yang semerbak. Barang siapa yang meminum kencing, darah dan memakan kotoran mereka maka haram masuk neraka dan wajib masuk surga (Anwarul Wilayat Liayatillah Al Akhun Mulla Zaenal Abiding Al Kalba Yakani : th 1419 halaman 440).

3. Kentut dari imam bagaikan bau misik.

Abu Jafar berkata : “ciri-ciri Imam ada 10:
- Dilahirkan sudah dalam keadaan berkhitan.
- Begitu menginjakkan kaki di bumi ia mengumandangkan dua kalimat syahadat.
- Tidak pernah junub.
- Matanya tidur hatinya terbangun.
- Tidak pernah menguap
- Melihat apa yang di belakangnya seperti melihat apa yang di depannya.
- Bau kentut dan kotorannya bagaikan misik."
(Al Kaafi 1/319) Kitabul Hujjah Bab Maulidul Aimmah)


4. Khumaini memperbolehkan menyodomi istri-istri.

Dalam kitab Tahrirul Wasilah hal 241- masalah ke 11. Khumaini berkata : “pendapat yang kuat dan terkenal adalah diperbolehkan menyetubuhi istrinya lewat lubang belakang walaupun hal itu sangat dibenci”,

Padahal Rasulullah bersabda : terkutuklah orang yang menyetubuhi istrinya lewat belakang.”


5. Meminjamkan istri

Diriwayatkan oleh Thusi dari Muhamad bin Abi Jafar berkata dihalalkan bagi saudaranya Farji istri-istrinya ia berkata boleh-boleh saja boleh bagi temannya seperti boleh bagi suami terhadap istri sendiri. (Kitabul Istibhsor 3/136)

6. Diperbolehkan menyetubuhi bayi.

Khumaini berkata : “Semua bentuk menikmati, seperti meraba dengan penuh syahwat, memeluk , dan adu paha boleh walaupun dengan bayi yang sedang menyusui”. Tahrirul Wasilah 2/216.

Al Khui : ia memperbolehkan seorang laki-laki memegang-megang atau bermain dengan aurat laki-laki lain atau wanita bermain dengan alat kelamin wanita lain bila sebatas gurau dan canda sebatas tidak menimbulkan syahwat. (Sirotunnajah fi Ajwibatil istifta’at jilid 3.)

Nasehat dari kami : hati-hati bergaul dengan para pengikut Khui yang suka bercanda

7. Diperbolehkan melihat sesuatu yang diharamkan dari kaca

Mereka memperbolehkan melihat kelamin banci mana yang lebih menonjol untuk kepentingan warisan, mereka berkata ia boleh melihat dengan kaca , yang dilihat adalah bayangan , bukan kemaluannya. (Al Kaafi 7-158).

8. Muhammad Husein Fadhlullah memperbolehkan melihat wanita-wanita yang sedang telanjang.

Fadhlullah berkata pada kitab Anikah juz 1 hal 66

"Seandainya wanita-wanita itu telah terbiasa keluar dengan berpakaian renang maka diperbolehkan melihatnya. Sama juga halnya melihat aurat yang dibuka sendiri oleh si perempuan, seperti di nude club atau kolam renang, pantai dan sebagainya.
Aku bertanya pada diriku sendiri : Agama apakah ini?

Jika anda bertanya : Apakah boleh seorang laki-laki menyetubuhi seorang perempuan, lalu membiarkan perempuan itu pergi ke pelukan laki-laki lain hanya dengan sekedar mengucapkan beberapa kata tentang harga dan waktu atau tentang berapa kali, atau kalimat “ aku mut’ahkan diriku kepadamu” (matta’tuka nafsi) tanpa saksi atau wali? Tanpa perlu mempersoalkan apakah perempuan itu memiliki suami ataukah dia itu pelacur? pasti akan dijawab berdasar pada sumber yang terkuat dan terpercaya : boleh, silahkan lihat kitab Al Kafi jilid 5/540.

Diperbolehkan mut’ah dan bercumbu dengan anak gadis bila sudah berumur 9 tahun –dalam riwayat lain 7 tahun- dengan syarat tidak memasukkan kemaluannya ke kemaluan anak perempuan itu karena ditakutkan menjadi aib bagi keluarganya (karena sudah tidak perawan lagi (Al Kafi jilid 5 hal 462) bukan karena haram dan bukan karena tidak sesuai dengan akhlak. Setelah membaca ini silahkan anda membayangkan masa depan akhlak dan perilaku anak perempuan yang dalam umur sekecil ini telah mendapat ‘pengalaman sex” dengan melihat alat kelamin laki-laki dan melihat gerakan-gerakan sex laki-laki, sedang laki-laki itu telah melakukan segalanya kecuali jima’ (coitus), jima’ dimakruhkan dari depan saja, berarti diperbolehkan lewat belakang (anal sex).

Apakah ada orang normal yang memperbolehkan seseorang berbuat demikian pada anak perempuannya, atau saudaranya, bahkan pada seluruh anak perempuan? Coba bayangkan perasaan anda jika sekiranya hal itu terjadi pada anak perempuan anda! Anda hanya perlu membayangkan, tidak lebih dari itu. Hal ini tidak dapat diterima oleh setan sekalipun, bagaimana dikatakan bahwa yang demikian itu adalah perkataan para Imam Ahlul Bait?

Komentar: Kalian akan heran karena hakekat ini. Hakekat yang pahit


9. Allah mengunjungi kuburan Husein


Diriwayatkan oleh Kulaini dan lainnya bahwa Abu Abdillah memarahi orang yang mengunjunginya tapi tidak mau berziarah kekuburan Ali. Dia berkata: “Kalau kamu itu bukan orang Syiah aku tidak pernah akan melihatmu. Mengapa kamu tidak mau berziarah ke makam yang diziarahi oleh Allah, malaikat dan para nabi? (Alkafi 7/580 Tahzibul Ahkam 6/20, Wasa’ilusyi’ah 14/375 Biharul Anwar 25/361 Kamiluziyarot hal 38 kitabul Mazar hal 19).

Mendengar hal ini, salah seorang sahabat Abu Abdillah berkata demikian “ demi Allah, saya berangan-angan seandainya saya menziarahi kubur Ali dan tidak pergi melaksanakan Ibadah Haji. Al Kafi jilid 4/583

10 . Barang siapa haji maka telah dikunjungi Allah

Barang siapa telah haji lebih 50 kali maka setiap hari Jum’at dikunjungi oleh Allah. (Faqih man la Yahdhuruhul Faqih 2/217 Wasa’ilusyi’ah 11/127 ).

11. Meminta pertolongan dari para Nabi dan Malaikat dalam sholat

Ucapkan pada akhir sujudmu, "Ya Jibril, Ya Muhammad(diulang-ulang)!! berikan saya kecukupan, sesungguhnya kalian berdua yang memberikan kecukupan dan jagalah saya dengan izin Allah karena kalian berdua menjaga saya" (Al kafi 2/406).

12. Berlindung pada makhluk dan berbuat dengan nama makhluk

Riwayat Al Kulaini. Dari Abi Abdillah ia berkata, Aku berlindung pada Rasulullah dari kejelekan dan kebaikan yang kamu ciptakan. (Al Kafi 2/391).

Dari Ali Jafar ia berkata : Bila seseorang sedang sakit maka ucapkanlah (dengan nama Allah, dengan Allah, dengan utusan Allah). (Al Kafi 2/412).

13. Imamah menurut Syiah Rafidhoh

Imamah adalah sebuah jabatan yang ditentukan dari Allah. Allah telah memilih seorang Nabi dan menentukannya, begitu juga Allah memilih seorang Imam dan mengangkatnya. (Ashlus Syiah wa ushuluha hal. 58).

Allah memilih Ali akan tetapi Ali berkata : “Tinggalkan saya dan cari selain saya, cukup aku menjadi wakil/pembantumu itu lebih baik daripada menjadi Imam/Khalifah.” Allah memilih Hasan tapi Hasan menyerahkan kepemimpinan/imamah pada musuh bebuyutan syiah, yaitu Muawiyah. Dengan itu maka Ali dan Hasan telah merontokkan prinsip Imamah dari pondasinya.

14. Kepercayaan memakan debu dan kerikil kuburan Husain

Abas Alqummi berkata : “para ulama melarang memakan debu dan tanah kecuali yang berasal dari kuburan Husain. Sebatas untuk pengobatan bukan untuk menikmati dan ini hanya sebatas biji kecil, lalu diletakkan dimulut dan ditelan dengan air secukupnya sambil berdoa, "Ya Allah, berikan rizqi yang luas yang bermanfaat dan disembuhkan dari berbagai penyakit" (Mafatihul Jinan 547)

Komentar: Saya takut rizki yang luas itu berupa sakit keras dan batu-batuan itu merusak ginjal.


15. Khasiat debu seperti madu


Tanah pusara Husain menurut kepercayaan mereka berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit, dan menghilangkan rasa takut, bila diminum orang yang sakit akan menjadi sembuh, bila diletakkan bersama jenazah dalam liang lahat maka dia akan aman dari siksaan kubur, bila dibawa seseorang dan dimain-mainkan maka dia mendapatkan pahala orang yang bertasbih, karena tanah itu dapat bertasbih sendiri (Biharul Anwar 11/118/140 Amali Tusi 1/326 Wasa’ilusyi’ah 10/415 )

Abu Abdullah berkata: Sesungguhnya Allah telah menjadikan debu kakekku Husain suatu obat dari segala penyakit dan menghilangkan rasa takut, jika salah seorang kalian memegangnya, maka hendaknya dicium, diletakkan di matanya dan menyapu dengan debu itu seluruh badannya sambil berdoa : Ya Allah, dengan hak tanah ini dan hak yang tinggal di dalamnya (Amali Tusi 1/326)


16. Seperti orang Nasrani

Suatu ketika istri Amiril Mukminin datang dan berkata sambil menangis : “Wahai Amiril mukminin sesungguhnya saya telah berzina, maka bersihkanlah saya”. Ali pun berkata dengan suara keras, wahai para manusia sesungguhnya Allah telah menjanjikan para Nabi dan Nabi menjanjikanku untuk melarang orang yang terkena hukuman untuk melakukan hukum cambuk , dan barang siapa punya kesalahan seperti perempuan ini maka jangan ikut mencambuk. Maka seluruh manusia yang berkumpul di situ pergi meninggalkan tempat selain Ali, Hasan dan Husein, lalu mereka bertiga menghukum cambuk perempuan itu. Kulaini berkata : Termasuk yang iktu pergi adalah Muhammad bin Ali bin Abi Tolib. (Al Kafi jilid 7 hal 178)

Hal ini sama seperti yang tercantum dalam Perjanjian Baru: Yohanes: 88:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."


17. Hamil dan melahirkan secara luar biasa

Imam Hasan Askari berkata : “Sesungguhnya kami para penerima wasiat Imamah tidaklah dikandung di dalam perut melainkan di pinggang dan tidak dilahirkan lewat rahim melainkan lewat paha sebelah kanan karena kami titisan cahaya Allah yang bersih dan tidak terkena kotoran sama sekali”. (Kamaluddin 390, 393 Biharul Anwar jilid 51 hal 2, 13,17, 26 , Itsbatul Hudat jilid 3 hal 409,414 I’lamul Wara hal 394 Dala’ilul Imamah 264).

Komentar: betapa mirip hal ini dengan keyakinan Nasrani tentang kehamilan yang suci.

18. Kepercayaan tentang sebuah penebusan :

Umar bin Yazid berkata : “Saya berkata pada Ali Abdillah As. Tentang firman Allah Saw (Allah hendak mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang)” Surat Al Fath ayat 2.

Ia berkata : “Dia tidak berdosa dan tidak pernah berniat untuk berbuat dosa, tapi Allah membebankan dosa-dosa mereka pada Nabi, kemudian Allah mengampuninya” (Biharul Anwar 17/76).

Mirip sekali dengan kepercayaan Nasrani mengenai penebusan dosa.

19. Musa Al Kazim mencegah kemarahan Allah

Musa Al Kazim berkata : “ Sesungguhnya Allah murka pada kaum Syiah. Kemudian Allah menyuruh saya memilih diri saya ataukah mereka, Maka demi Allah, aku selamatkan mereka dari kemurkaan Allah" (Al Kafi 1/260).

20. Para imam adalah Asma’ul Husna

Para imam adalah Asma’ul Husna (Nama Allah yang Mulia) mereka adalah lidah Allah, Wajah Allah, Mata Allah, Pinggang Allah, merekalah tangan Allah yang serba bisa. Al Kafi jilid 1 hal 113

21. Fatimah adalah Tuhan yang berwujud seorang wanita

Amiril Mu’minin berkata : “Fatimah bukan wanita biasa melainkan seorang wanita titisan Tuhan. Tapi dia memiliki sifat manusia seutuhnya. Ia adalah Wanita dari kerajaan besar yang menampakkan diri dengan wujud manusia bahkan dia adalah eksistensi tuhan yang berwujud seorang perempuan." (Al Wasilah ilallah karangan Ibrahim Al Ansari hal-7)

22. Mereka adalah penyebab terciptanya langit dan bumi

Langit dan bumi diciptakan untuk Ali begitu juga Shiratal Mustaqim, pintunya dan tali penghubung antara Allah dan hamba-hambanya seperti para Rasul Nabi , para Haji dan para wali, (Al Wafi 8/224).

Allah telah menciptakan segala sesuatu di bumi ini dan menyerahkan pengelolaannya kepada Ali dan keluarganya. Mereka dapat menghalalkan dan mengharamkan apa saja yang mereka kehendaki, karena kehendak mereka adalah kehendak Allah (Al Kaafi /365).

Dunia dan akhirat itu milik imam, dia bebas memberikannya pada siapa saja, (Al Kaafi 1/337).

Mereka beranggapan bahwa para imam itu. Bahwasanya Allah memandangi para penziarah kuburan Husain pada sore hari Arafat sebelum melihat pada jamaah haji yang sedang wukuf. Abu Abdillah berkata : “Karena di Arafah terdapat anak haram sedangkan di kuburan Husein tidak ada anak haram di sana (karena selain syiah adalah anak haram )"( Kitab Al Wafi jilid 2 - juz 8 hal 222). Maksud anak zina bagi Syiah adalah kaum muslimin selain pengikut Syi’ah.

Bahkan dalam Al Kafi jilid 8 hal 285 : Setiap orang adalah anak zina kecuali Syiah. Dalam tafsir Ayyasyi jilid 2 hal 218 dan Al Burhan jilid 2 hal 139 : Setiap anak yang lahir di tunggui oleh iblis , bila yang lahir itu berasal dari kelompok Syiah maka terjaga dari iblis, bila bukan dari kelompok Syiah maka syetan meletakkan jari-jarinya pada lambung belakang anak laki-laki agar kelak menjadi orang tercela dan bila kelamin perempuan agar kelak menjadi pelacur.

23. Taat kepada Ali lebih penting dari pada taat kepada Allah.


Dalam mukadimah tafsir Al Burhan tercantum : Bahwa Allah berfirman, "Ali bin Abi Tholib adalah hujjahKu di atas ciptaan-Ku. Saya tidak akan memasukkannya ke neraka siapa yang memberikan haknya walau dia mendurhakai-Ku dan tidak akan saya masukkan surga orang yang mengingkarinya walau ia taat pada-Ku" (Al Burhan hal 23).

24. Tak ada yang mengumpulkan al Quran kecuali para imam

Al-Quran diturunkan terdiri dari 17 ribu ayat (Al Kafi 2/463). Al Majlisi dalam Mir’atul Uqul mengatakan bahwa riwayat ini terpercaya.

25. Para imam itu lebih utama dari para Nabi Allah. Derajat mereka lebih tinggi daripada para Malaikat, Nabi, Rasul.

Para Imam memiliki kedudukan mulia dan kekuasaan atas makhluk, seluruh atom di alam ini tunduk pada mereka. Posisi ini tidak dicapai oleh malaikat maupun para Nabi. (Kitab Al Hukumah Al Islamiyah karangan Khomeini halaman 52)

26. Allah telah mengusapkan tangan kanannya pada keluarga Ali dan memberikan cahayanya pada mereka

Tak ada keselamatan kecuali kalian wahai keluarga Ali, tidak ada tempat selain dari kalian wahai mata Allah yang melihat (Biharul Anwar : 94/37).

Kalian adalah kesembuhan utama dan obat yang menyembuhkan bagi yang meminta kesembuhan pada kalian. Biharul Anwar jilid 94 hal 33.

Para Nabi bertawasul pada para imam dalam berbagai doa dan permintaan mereka. Ketika Nabi Nuh hendak tenggelam, ketika Nabi Ibrahim dilempar ke api, Nabi Musa hendak menyeberangi laut, Nabi Isa akan dibunuh oleh orang Yahudi semuanya bertawasul dengan para Ahlul Bait untuk keselamatan mereka (Biharal Anwar 26/325 Wasa’ilusyi’ah jilid 4 hal 1134).

Majlisi berkata : Allah hanya disembah, dikenal dan diesakan dengan perantaraan para Imam. Biharul Anwar jilid 23 hal 103.


Para imam berkata apabila kalian punya keinginan kepada Allah tulislah sebuah tulisan pada sesobek kertas dan letakkan pada salah satu kuburan keluarga Ali atau bungkus dan masukkan sedikit tanah yang bersih dan letakkan di sebuah sungai, sumur yang dalam atau oase padang pasir, pasti akan sampai pada Mahdi kemudian akan dia sendiri yang mengkabulkan apa yang akan menjadi kehendakmu (Biharal Anwar 94/29).

Komentar : berarti Majlsi berpendapat bahwa yang mengabulkan doa dan permohonan manusia bukanlah Allah tapi Mahdi Alaihissalam.

Beberapa contoh tulisan

Barang siapa berdoa kepada Allah dengan perantara Ahlul Bait maka akan mendapatkan keuntungan dan sebaliknya sampai para Nabi pun terkabulkan karenanya apabila bertawasul dengan Imam Ahlul Bait (Biharul Anwar : 23/103).

Nabi Yunus dimakan ikan paus hanya karena dia mengingkari Imamah Ali bin Abi Tolib, setelah dia percaya maka dikeluarkan oleh Allah. (Biharul Anwar jilid 26 hal 333.)

Karena perantaraan Imam pohon bisa berbuah dan buah masak di pohon. Karena perantaraan merekalah sungai mengalir, karena mereka pula hujan turun dari langit dan rumput tumbuh di permukaan bumi. Jika tidak ada para imam niscaya Allah tidak akan disembah.(Al Kafi jilid 1 hal 112).

Para Imam adalah Sholat yang diperintahkan oleh Allah. Dalam Al Kafi diterangkan mengenai makna Ayat dalam surat Al Mudatsir ayat 42-43 .

Artinya : "Apa yang membuat kamu masuk dalam neraka saqor? Kita di dunia tidak pernah menunaikan sholat."

Maknanya adalah : Kita tidak mengakui keimamahan Ali dan para Imam dari keturunannya. Kita dulu tidak menjadi pengikut para Imam. (Al Kafi jilid 1 hal 347-360).

Barang siapa mengenal para imam berarti beriman dan barang siapa mengingkari maka kafir (Al Kafi 1/144).

Sesungguhnya sayalah (Ali) yang ditugasi membagi masuknya orang ke surga dan neraka (Al Kafi : 1/ 153).

- Dunia dan akhirat adalah milik Imam, terserah, mau diberikan sama siapa saja itu terserah pada para Imam (Al Kafi 1/337). Mereka yang menguasai kunci kekayaan yang ada di bumi, kapan saja boleh mengeluarkan emas-emas yang ada di dalam tanah itu (al Kaafi 1/394).

- Diperbolehkan Towaf pada kubur Nabi dan kubur para Imam (Al Kafi jilid 1 hal 287).


27. Minta pertolongan, perlindungan, basmallah, selain Allah tidak dilarang.

Para imam mengetahui apa yang ada di langit, bumi, surga, neraka , mereka mengetahui apa yang telah terjadi dan semua yang terjadi kemudian.(Al Kafi jilid 1 hal. 204) ciptaan Allah dan yang akan diciptakan.

Mereka mengetahui seluruh ucapan-ucapan manusia, burung, binatang dan segala yang bernyawa Barang siapa tidak bersifat demikian maka dia bukan Imam (Al Kaafi 1/225).

Para imam mendapatkan wahyu yang seperti diceritakan oleh Abi Jafar ia berkata : “Allah tidak akan menurunkan ilmu kecuali kepada keluarga Nabi dengan perantara Jibril as” (Al Kaafi 1/330).

Pengetahuan mereka telah sempurna sejak mereka dilahirkan. Riwayat dari Ya’kub Assiroj suatu ketika ia masuk ke rumah Abi Abdillah as, ia sedang duduk didekat kepala Abi Hasan Musa saat dia masih bayi, dia berbisik-bisik dengan Abul Hasan lama sekali, aku pun diam hingga mereka berdua selesai berbisik-bisik. Aku pun mendekatinya, lalu ia berkata padaku, “Mendekatlah pada tuanmu. Berikan salam padanya" Maka aku mendekat dan memberi salam ia (anak) menjawab dengan fasih kemudian ia berkata padaku, pulang dan gantilah nama anak perempuanmu yang kamu namai kemarin, nama itu benci oleh Allah. Kemarin aku memberi nama anakku dengan Humaira’. (Al Kaafi 1/247).(Nota: Humaira’ adalah nama panggilan Aisyah istri Nabi.)

Bagaimana seorang anak kecil dalam gendongan dapat mengerti nama-nama yang dibenci Allah, termasuk Humaira’? Dia tidak mungkin tahu jika tidak mendapat wahyu dari Allah. Inilah kekafiran dan kemurtadan. Karena orang yang yakin bahwa ada yang mendapat wahyu setelah Nabi adalah kafir. Ingat perang Riddah, Abubakar Assiddiq memerangi Musailamah Al Kazzab karena dia mengaku mendapat wahyu. Ali ikut dalam peperangan itu bahkan mendapat bagian seorang budak dari rampasan perang, yang akhirnya melahirkan anaknya yang bernama Muhammad ibnu Hanafiyah.


28. Mereka di ajarkan hal-hal yang ghoib dari Allah


Sementara para imam mengetahui seluruh perkara ghoib, tapi menurut mereka Allah tidak memiliki ilmu secara mutlak , tapi Syi’ah berpendapat bahwa Allah biasa saja mengetahui hal baru yang tidak diketahui sebelumnya. Setelah Musa Al Kazim wafat, Allah mengetahui hal baru yang tidak diketahui oleh Allah sebelumnya. Allah tidka pernah disembah dan diagungkan seperti ketika dikatakan bahwa Allah memiliki sifat kebodohan seperti ini (Al Kaafi jilid 1 hal 113).. Karena jika Ilmu Allah itu mutlak maka Dia Maha mengetahui segala sesuatu, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi kemudian. Dalam Al Kafi jilid 1 hal 263 dikatakan : Allah mengetahui sesuatu yang baru tentang Abu Ja’far yang sebelumnya (Allah) tidak tahu.

Ini berarti Allah bukan Maha Tahu, karena jika Maha Tahu, pasti mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang baru diketahui oleh Allah.

Seorang Imam tidak akan wafat sebelum mengetahui siapa penggantinya. (Al Kafi jilid 1 hal 218).

Para Imam mengetahui seluruh yang telah terjadi dan yang belum terjadi, tidak ada yang tersembunyi bagi mereka. Inilah perbedaan antara Imam dan Nabi, para Nabi mengetahui kejadian yang lampau dengan wahyu Allah dan tidak mengetahui masa depan kecuali yang diwahyukan dari Allah saja.

Para imam mengetahui kapan mereka mati, merka tidak mati kecuali atas kehendak mereka sendiri.

Diperbolehkan meminta pada selain Allah pada saat saat genting.

Kita dilarang mengatakan bahwa Allah memiliki tangan, memiliki wajah, tapi boleh saja mengatakan bawha Ali bin Abi Tolib adalah wajah Allah.

Dari Abi Abdilah ia berkata : “ lalu diperlihatkan api neraka pada mereka, lalu berkata, “Masuklah kalian ke neraka dengan izinku!”. Orang pertama yang masuk neraka adalah Muhammad SAW, kemudian diikuti oleh para Ulul Azmi, para pewaris dan pengikutnya, lalu dia berkata pada manusia golongan kiri (Ashabusyimal) masuklah ke neraka dengan ijin saya, mereka menjawab ya Tuhan apakah kau ciptakan kami untuk dibakar, ia berkata kepada Ashhabul Yamin keluarlah kalian dari neraka atas ijinku. Api Neraka tidak sedikitpun melukai mereka (Al Kaafi 2/9).

29. Para sahabat sama merubah Al Qur’an dan melakukan konspirasi.

Hafshah dan Aisyah telah meracuni Rasulullah dan mengumpulkan uang lalu membagi-bagikan pada orang-orang yang membenci Ali. Penduduk Makah dengan terang-terangan menentang Allah. Penduduk Madinah lebih jelek dari penduduk Makah 70 kali (Al Kaafi 2/301).

Dikatakan juga bahwa bangsa Romawi itu lebih baik dari bangsa Syam karena orang Romawi kafir namun tidak memusuhi Ahlulbait sedang orang Syam kafir dan memusuhi kita (Al Kaafi 2/301).

30. Penghuni Bungker yang dimulyakan Allah.

Imam Mahdi yang bersembunyi dalam Sirdab seharusnya disebut “imam dalam pengasingan” seperti pemerintahan dalam pengasingan, yang memerintah sebuah negeri dari luar negeri tersebut.

31. Penafsiran yang menyesatkan


Dari Jabir dari Abi Abdillah as tentang penafsiran firman Allah:

Bahrain; dua laut, yang bermaksud adalah Ali dan Fatimah

Ali tidak mendholimi Fatimah dan sebaliknya.

Al Hasan dan Al Husain As


32. Ali terbang di atas mega awan

- Diriwayatkan oleh Hasyim Albahroni dari Ali As bahwa Ali pernah mengendarai awan terbang berputar mengelilingi tujuh bumi (Madinatul Maajiz 1/542).

- Kelompok Yazid bin Muawiyah mendatangi Ali bin Husein, mereka menemukan Ali sedang mengendarai awan (Madinatul Maajiz 4/256).

- Juga dari Thoba Thaba’i berkata : Allah telah menguasakan awan pada Ali maka ia berjalan dari dunia timur ke barat (Tafsir Al Mizan 13/372).


33. Halilintar dan kilat dibawah kehendak dan aturan Ali

Dari Abdillah bin Qoosim bin Sama’ah bin Mihron berkata waktu itu aku berada di dekat Abi Abdillah tiba-tiba langit berkilat dan berpetir, Abu Abdillah berkata petir ini tidak pernah ada kecuali atas perintah teman kalian, saya berkata, siapa teman kita ? ia berkata Amirul Mu’minin As (Al Ikhtishos Lil Mufid hal : 327).

34. Mentalkin Mayid menggunakan nama-nama para imam

Hendaknnya mayit itu ditalkin dengan dua syahadat dan menyebut nama-nama imam. Setelah diletakkan di dalam kubur dan sebelum diletakkan bata di lahat dengan mengucapkan : wahai fulan anak fulan ingatlah janji pada waktu kamu meninggalkan dunia suatu kesaksian bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah yang maha Esa dan tidak ada yang menyekutukannya dan sesungguhnya Muhammad itu hambamu dan utusanmu dan sesungguhnya Ali adalah pimpinan orang-orang mukmin juga Hasan Husein dan menyebutkan para imam sebagai imam yang memberi petunjuk dan baik-baik (Anmihayah hal 38).

35. Yang menyebabkan timbulnya penyakit kusta

Dari Abi Abdillah berkata. Amiril Mukminin : “Berkata janganlah kalian terlentang di pemandian karena akan menyebabkan melelehnya lemak lambung, dan janganlah menggosok-gosok kedua kaki dengan tembikar (ceramik) karena akan menyebabkan kusta”. (Al Kafi 6/500)

36. Kekenyangan menyebabkan kusta

Dari Abi Abdillah berkata : “Makan kekenyangan akan menyebabkan sakit kusta”. (Al Kafi 6-269)

37. Mandi menggunakan gayung tembikar dari mesir akan menyebabkan kamu menjadi kehilangan sifat cemburu.

Dari Abi Al Hasan Arridho berkata : “Saya mendengarnya berkata dan menyebutkan mesin di berkata dan berkatalah Nabi saw. Janganlah kalian makan menggunakan tembikar mesir dan janganlah membasuh/mandi dengannya karena menyebabkan hilangnya sifat cemburu”. (Al Kafi 6-386)

38. Membiasakan berada di kamar mandi menyebabkan TBC

Dari Abil Hasan Arridho berkata : “Jagalah dirimu dari membiasakan berada di kamar mandi karena itu akan menyebabkan TBC”. (Al Kafi 6/497)

39. Bersikatan di pemandian akan menyebabkan sakit gigi

Bersikatan dipemandian itu dibenci akan menyebabkan sakit gigi (Man la yahdhuruhul Al Faqih 1/53).

40. Makan wortel dapat menghangatkan ginjal dan menegangkan zakar

Demikian diceritakan oleh Alkulaini dari Abi Abdillah bahwa tersebut diatas dapat menghangatkan lambung, menambah stamina dalam bersetubuh (Al Kafi 6/372).

41. Minum air di malam hari menyebabkan merahnya air kencing

Dari Abi Abdillah berkata : “Minum air dimalam hari sambil berdiri menyebabkan kencing menjadi merah. Sedang berbicara pada waktu bersetubuh akan menyebabkan kebisuan”. (Al Kafi 5/498)

42. Melihat kelamin wanita menyebabkan kebutaan

Makruh melihat kemaluan wanita dan menyebabkan kebutaan (Al Aqil 3/556).

43. Romadhon salah satu nama Allah

Sesungguhnya Romadhon termasuk nama Allah (Al Kafi 4/69)

44. Aduh termasuk nama Allah

Dari Abdillah berkata : “Aduh termasuk salah satu nama Allah. Barang siapa mengucap aduh berarti telah memohon pertolongan-Nya“. (Biharul Anwar 8/202)

45. Nama-nama Malaikat yang aneh

a. Fitrus, malaikat ini bermaksiat, dalam kisah panjang lebar yang penuh kebohongan, akhirnya setelah mengunjungi kuburan Husain dan berguling-guling di tanahnya terkabullah tobatnya.

b. Shairshail, diatas kedua pundaknya tertulis kalimat perjodohan cahaya dan cahaya yaitu Ali dan Fatimah.

c. Malaikat satu lagi bernama Khirqa’il memiliki 18 000 sayap, antara sayap satu dengan yang lainnya berjarak 500 tahun (Al Burhan juz 2 hal 327).

d. Kitab Al Kafi menerangan satu lagi malaikat yang bernama Mansur, dia masih selalu menziarahi kuburan Husein. (Al Kafi jilid 4 hal 583)

46. Imam Mahdi akan keluar dalam keadaan telanjang

Diriwayatkan dari "Athausy wan Nu’mani" dari Imam Ridho : Di antara tanda-tanda keluarnya Imam Mahdi adalah ia tampak telanjang di poros matahari (Haquul Yaqin hal 347).

47. Dilarang menyembelih pejantan yang sedang kawin.

Kalini berkata : “Rasulullah melarang menyembelih yang sedang naik syahwatnya”. Al Kafi jilid 6 hal 261. Syarat menyembelih hewan ditambah satu : Tidak sedang naik syahwatnya.

48. Hati-hati memakai sandal berwarna hitam

Ibnu Babawaih meriwayatkan dari Abi Abdillah sesungguhnya ia telah melihat seorang laki-laki memakai sandal berwarna hitam. Ia berkata jangan pakai sandal berwarna hitam sebab itu menyebabkan lemahnya pandangan mata, menjadikan zakar lembek dan menyebabkan timbulnya kesedihan. Sebaliknya pakailah sandal yang berwarna kuning karena itu akan menyebabkan tajamnya mata, menegangkan zakar dan menghilangkan kesedihan (Kitabul Hishal juz 1 hal 99).

49. Mu’jizat kekuatan Ali

Aljzairi meriayatkan dari Albarosi berkata dan sesungguhnya Jibril telah datang kepada Rasulullah dan berkata wahai Rasul tatkala Ali hendak memukulkan pedangnya pada suatu tempat yang luas Allah menyuruh Israfil Mikail untuk menahan lengannya di angkasa agar tidak memukulkan dengan sekuat tenaganya dan membagi kekuatan menjadi dua arah. Satu arah dikenakan pada besi dan yang satu pada tanah. Kemudian Allah menyuruh Jibril agar segera masuk ke bumi untuk menahan agar pedangnya tidak sampai ke dasar bumi agar jangan sampai bumi terbalik karenanya. Aku pun menahannya. Pedang itu lebih berat bagi sayapku dari kota kaum Lut, yang terdiri dari 7 kota. Semuanya ku cabut dari bumi ke 7 dan ku angkat hanya dengan 1 bulu dari sayapku, aku tunggu perintah Allah hingga waktu sahur untuk membaliknya, aku tidak merasakan berat seperti berat pukulan pedang Ali bin Abi Tolib.

Pada saat yang sama ada suatu peristiwa ketika benteng pertahanan dapat dijebol dan para wanitanya ditahan. Diantara wanita itu ada yang namanya Shafiyah, dia adalah anak penguasa benteng tersebut, datang dengan luka di wajahnya. Nabi bertanya kepadanya . Ia berkata pada waktu Ali datang ke benteng dan kesusahan untuk menembusnya, maka Ali naik ke menara benteng dan menggoyangkannya. Maka tergoyanglah semua benteng dan jatuhlah semua yang ada, saat itu saya berada di atas tempat tidurku, lalu aku jatuh oleh goncangan itu dan tertimpa tempat tidurku. Nabi berkata : “Wahai Shafiyah waktu Ali marah dan menggoncang benteng Allah marah karena marahnya Ali lalu Allah menggoncangkan langit dan bumi ”. Dan malaikat ketakutan jatuh tersungkur. Inilah keberanian ilahi. Saat akan membuka pintu benteng Khoibar, pada malam hari sebelumnya 40 orang saling bantu membantu untuk menutup pintu benteng, saat Ali masuk ke benteng, perisainya jatuh karena tak kuat menahan sabetan pedang. Lalu Ali mencabut pintu dan menjadikan pintu benteng itu menjadi perisainya hingga Allah memberikan kemenangan (Al Anwar Anu’maniyah, karangan Ni’matillah Aljazaairi).

50. Ali membelah Sungai Eufrat dengan menggunakan batang kayu

Ketika Ali kembali dari Perang Shifin, ia berbicara dengan sungai Eufrat, maka berguncanglah Eufrat dan terdengar suaranya mengucapkan dua Kalimah Syahadat dan pengakuan bahwa Ali adalah khalifah. Riwayat lain menyebutkan, Ali melibaskan kayu ke Sungai Eufrat. Memancarlah air dan ikan-ikan sama memberi salam dan mengakui bahwa bahwa Ali adalah hujjah. (Zainuddin, Kitab Shiraathal Mustaqim 1/20)

51. Bagaimana bisa tahu bahwa semangka itu pro Ahlul bait atau benci Ahlul bait.

Dari Hamzah bin Muhammad Al Alawi dari Ahmad bin Muhammad Alhamdani dari Mundzir bin Muhammad dari Husain bin Muhammad dari Sulaiman bin Ja’far dari ayahnya dari ayahnya dari ayahnya dan ayah kakeknya berkata bahwa: Amirul mukminin mengambil buah semangka dan memakannya; namun rasanya pahit maka lantas melemparkan sambil berkata hancurlah dan menjauhlah. Amirul mukminin ditanya ada apa dengan semangka ? Dia mejawab Rosul bersabda bahwa Allah telah mengambil perjanjian untuk mencintai Ahlul bait dari setiap hewan dan tumbuh-tumbuhan. Buah mana saja yang menerima perjanjian dan melaksanakannya maka akan terasa manis, dan yang menolak akan terasa pahit. Dengan ini kita dapat mengenal mazhab setiap buah.

52. Seekor burung yang keluar dari lobang hidung

Dari Abi Abdillah berkata : Barangsiapa bersin meletakkan tangan di belakang hidungnya kemudian berkata : Segala puji bagi Allah Robbul Alaimin, Segala Puji Bagi Allah, aku memujinya dengan pujian yang banyak, yang layak bagi Allah yang Maha Terpuji, Sholawat dan salam pada Nabi yang Ummi beserta keluarganya, maka keluarlah seekor burung kecil sebesar lalat dari lubang hidung kiri dan terbang ke Arsy memintakan ampun pada orang tersebut sampai hari kiamat (Al Kaafi : 2/481).

53. Allah menyuruh dua syetan menjaga orang yang membaca ayat Kursi

Dari Abi Abdillah berkata : Barang siapa menjelang tidur membaca tiga kali ayat kursi dan ayat yang ada di Ali Imran, (Allah bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, begitu juga malaikat, dan ahli ilmu… ayat 18) , ayat Sukhroh dan ayat Sajdah maka Allah menyuruh dua syetan untuk mengamankannya dari godaan-godaan para syaitan-syaitan jahat (Al Kaafi 2/392).

54. Qisah Ufair keledai Rosulullah

Amirul mukminin berkata : binatang yang pertama mati setelah Nabi wafat adalah Ufair keledai Rosulullah, mati sesaat setelah Rosulullah wafat ia memotong tali pengikatnya kemudian lari sampai dekat sumur Bani Khuthomah di Quba’ dan menceburkan dirinya ke dalam sumur yang sekaligus menjadi kuburannya. Keledai itu mengatakan pada Nabi : Ayahku menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya bahwa dia bersama Nabi Nuh di kapal. Lalu Nuh berdiri menghampiri keledai itu serta mengusap punggungnya lalu mengatakan akan lahir dari perut keledai ini, seekor khimar yang akan menjadi kendaraan Rosul akhir zaman. Ufair berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku keledai itu (Al Kaafi 1/184).

55. Hasan berbicara dengan 70 juta bahasa

Dari Abi Abdillah, sesungguhnya Al Hasan berkata, Allah punya dua kota satu di timur satunya di barat. Kota-kota itu memiliki 70 juta. Satu sama lain berbicara dengan bahasa yang tidak sama dan saya memahami semua bahasa itu"(Al Kaafi 1/384-385)

Sebagian orang berteriak-teriak keheranan karena Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi 6000 riwayat, tapi diam saja dan percaya bahwa Hasan dapat berbicara dengan 70 juta bahasa.

56. Makan tanah/Debu kuburan Husein dapat menyembuhkan segala macam penyakit

Dari Abil Hasan ia berkata : Setiap tanah itu haram seperti bangkai, darah, daging babi, kecuali tanah kuburan Al Husein karena tanah itu dapat menyembuhkan segala penyakit, dapat memberikan rasa aman rasa yang menakutkan, asal jangan banyak-banyak .(Al Kaafi : 3/378).

Dalam kitab Mafatihul Jinan disebutkan , pandapat yang terkenal menyebutkan bahwa dilarang secara mutlak memakan tanah dan pasir kecuali tanah pekuburan Husein yang suci dalam rangka berobat mencari kesembuhan dengan memakannya, itu pun tidak lebih dari sebesar kacang. Yang lebih hati-hati, adalah tidak memakan tanah tersebut lebih besar dari biji adas. Lebih baik lagi, memakannya dengan meletakkan tanah itu dalam mulutnya lalu minum seteguk air dan berdo’a : Ya Allah jadikanlah tanah ini membuat saya mendapat rizki yang luas , Ilmu yang manfaat dan kesembuhan dari segala penyakit. Kitab Mafatihul Jinan 547.

Makan tanah dapat menyebabkan kemunafikan (rupanya inilah sebab munculnya taqiyah). Dari Abi Abdillah berkata : Makan tanah dapat menimbulkan kemunafikan (Al Kafi jilid 2 hal 265).

Dari Abu Ja’far berkata : perangkap setan yang terbesar adalah makan tanah, yang dapat menyebabkan penyakit dan membangkitkan penyakit yang tersembunyi. Barang siapa memakan tanah lalu menjadi lebih lemah dari sebelum makan tanah, dan lemah tidak dapat beramal seperti sebelum dia makan tanah, akan dihisab antara periode kuat dan lemahnya dan akan diazab dengannya.( Al kafi jilid 6 hal 266)

57. Obat penyakit mata

Bertawassul pada Allah dengan Imam Musa Al Kazim dapat menyembuhkan penyakit mata. (Al Baqiyat Assolihat hal 745, edisi gabungan dengan kitab mafatihul Jinan)

58. Nama-nama hari adalah nama-nama Rosul dan Ahlul bait

Sabtu adalah Nama Rosulullah SAW dan Ahad adalah nama Ali Amirul Mukminin, dan Al Isnain Hasan Husein dan Thulathaa Ali bin Husein Muhammad bin Ali Ja’far bin Muhammad as. Arbia nama Musa bin Ja’far Ali bin Musa Muhammad bin Ali dan Saya. Khomis nama kedua anak Husein, Jumat adalah nama cucuku dan pada hari itu orang pembawa kebenaran akan berkumpul. (Mafatihul Jinan 86). Tapi mereka menerangkan bahwa nama Al Ahad adalah salah satu nama Allah (wasailu Syiah 1/350).

59. Siapa Makan keju setiap awal bulan dikabulkan apa yang menjadi keinginannya

Barangsiapa membiasakan makan keju di awal bulan hampir tidak pernah ditolak apa yang diinginkannya (Mafaatihul Jinan 366).

60. Obat lupa?

Hendaklah membiasakan makan kismis sebelum memakan apa pun di pagi hari, dan menjauhi makanan yang menyebabkan lupa yaitu makan apel yang kecut, kabzarah hijau, keju, kencing di air yang tenang, berjalan di antara dua wanita, menjatuhkan kutu hidup, melihat orang yang disalib, berjalan antara kereta dan unta (Mafaatihul Jinan 802). Al Kulaini berkata: makan apel dan ketumbar menjadikan lupa (Al Kaafi 6 / 366)


61. Makan delima termasuk amalan yang dianjurkan di Hari Jumat

Hendaklah makan delima seperti halnya dilakukan Assodiq setiap malam Jumat dan sebaiknya dimakan menjelang tidur, sebab barangsiapa memakannya menjelang tidur di rumah aman sampai pagi hari. Barang siapa memakan buah delima hendaknya menaruh sapu tangan di bawahnya agar bijinya tidak jatuh ke mana-mana, mengumpulkan biji dan memakannya, juga pada saat menyantap delima jangan sampai mengajak orang lain (Mafaatihul Jinan 60 ).

Termasuk amalan hari Jum’at makan delima di pagi hari sebelum makan sesuatu dan tujuh daun andewi sebelum matahari condong. Dan barangsiapa makan delima pada malam hari maka hatinya terang selama 40 hari. Bila makan dua buah delima maka hatinya akan terang selama 80 hari, barang siapa memakan 3 buah maka hatinya akan menjadi terang selama 120 hari dan aman dari godaan Syetan. Barang siapa tidak digoda setan maka dia tidak akan bermaksiat, barang siapa tidak bermaksiat maka Allah akan memasukkannya ke dalam Sorga (Mafaatihul Jinan 63).

62. Yang dapat menambah rizki

Diantara yang dapat menambah penghasilan/rizki adalah mencukur kumis, memotong kuku. Hal itu juga menyebabkan aman dari gila, kusta dan lepra (Mafaatihul Jinan 63 – 64).

63. Imam Al Hasan dapat berbicara dengan semua bahasa

Dari Abi Hamzah Nashir Al Khodim berkata: Berkali-kali saya mendengar Abu Muhammad berbicara dengan anak laki-lakinya dengan bahasa-bahasa mereka ada Turki, Rum, Slavia. Ali berkata sesungguhnya Allah telah memberikan imam berbagai macam bahasa dan pengetahuan tentang nasab dan peristiwa-peristiwa (Al Kaafi 1 / 426)

64. Al Husain menyusu dari jari-jari dan lidah Nabi

Dari Abi Abdillah ia berkata: bahwa Husain tidak pernah menyusu dari Fatimah ibunya dan dari wanita-wanita lain, melainkan dibawa kepada Nabi lalu beliau meletakkan ibu jarinya di mulut Husain. Maka keluarlah susu dari jari Nabi. Husain mengisap sampai cukup untuk dua/tiga hari (Al Kaafi 1 / 386).

Mereka orang-orang Syiah tidak percaya bahwa Abu Hurairah telah meriwayatkan Hadist dari Nabi sebanyak 6000 hadits, adapun Al hasan mampu berbicara 70 juta bahasa, sementara kita tahu bahwa jumlah bahasa di dunia ini tidak sampai segitu walau harus ditambah dengan bahasa serangga, malaikat memiliki 24 wajah, Fatimah berbeda dengan wanita biasa dan tidak pernah Haidh, Nabi menyusu pada Abu Tolib, bukannya Ummu Tolib, Husein menyusu pada jari Nabi, semua ini masuk akal bagi Syiah.

Demikian, orang syiah heran karena Nabi Musa menampar malaikat, serta mereka menghukumi nas nas Ahlussunah persis seperti para orientalis yang tidak berakal. Lalu bagaimana dengan Nabi yang menyusu dari Abu Tolib dan Husein yang menyusu dari jari-jari Nabi?

Orang-orang Syiah akan bertanya padamu, siapa yang berkata padamu bahwa kami percaya dan menerima seluruh riwayat yang ada di Kitab Al Kaafi padahal di dalamnya ada yang Sohih ada juga yang dho’if?

Jawabannya: Pertama hal ini bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh para ulama Syiah bahwa isi kandungan Al Kaafi sangat mutawatir sangat pasti kebenarannya, serta merupakan kitab terbaik di antara 4 kitab utama mazhab Syi’ah.

Kami Ahlussunnah telah meneliti sumber aqidah kami, jika sebuah riwayat benar-benar diriwayatkan dengan sanad yang bersambung sampai Nabi dan dengan perowi dipercaya maka kami terima dan kami tidak akan perduli dengan siapa saja yang tidak suka. Adapun kalian wahai para kaum Syiah. Apa yang kalian nantikan. Kalian tulis Kitab Al Kaafi lebih 1000 tahun. Kenapa tidak kalian cek sanadnya ? Inilah hal yang nggak mungkin dapat dilakukan oleh Syiah.


65. Nabi menyusu pada puting pamannya Abu Thalib

Dari Abi Abdullah berkata : Ketika Nabi dilahirkan, berhari-hari Nabi tidak minum susu, maka Abu Thalib sendiri yang menyusui Nabi dengan susunya. Allah menurunkan air susu lewat Abu Thalib sampai kemudian dilanjutkan oleh Halimah Sa’diyah (Al Kaafi 1/373).

66. Nabi Danial mengancam Allah untuk melakukan perbuatan maksiat

Dari Abi Ja'far ia berkata : Sesungguhnya Allah telah menyuruh Nabi Dawud a. s. agar menemui hambaNya Danial dan berkata padanya : Wahai Danial, kamu telah melakukan kesalahan tiga kali dan Aku (Allah) telah mengampuninya bila kesalahan itu kau ulang yang keempat kalinya maka tidak Ku ampuni.

Kemudian Danial berdoa pada Allah pada waktu sahur: Demi KeagunganMu sungguh bila engkau tidak mau menjagaku dari perbuatan dosa , maka aku pasti berbuat durhaka, berbuat durhaka, berbuat durhaka (Al Kaafi 2/316).

Bagaimana mereka orang-orang Syiah itu percaya atas terlindunginya Imam dari dosa dan kesalahan padahal kita saksikan sendiri bagaimana buku induk pegangan Syi’ah mencela para Nabi seperti yang kita baca barusan, yang mengisahkan keberanian Nabi Danial pada Allah dengan berkata “sungguh aku akan berbuat maksiat”.

Seseorang berkata pada Amirul mu’minin : “Wahai Amirul Mu’minin, di perut saya ada cairan kuning, apakah penyakitku ini dapat disembuhkan? Ali menjawab : Tulislah di perutmu ayat kursi, lalu siramkan air itu pada perutmu dan minumlah air itu, dan jadikan air itu sebagai jimat di perutmu, maka dengan izin Allah sakit di perutmu akan sembuh. Lalu si penanya melakukan apa yang diajarkan Amirul mu’minin dan benar-benar sembuh. Al Kafi jilid 2 hal 457.


67. Apa yang harus diucapkan sehabis tertawa terbahak-bahak

Abi Ja’far berkata : Bila kau telah selesai tertawa terbahak-bahak berdoalah (ya Allah janganlah kau memurkaiku (Al Kaafi 2/487).

68. Bacaan Sholawat terhadap keluarga Nabi membuat seseorang tidak perlu lagi berdoa pada Allah

Dari Abi Abdillah berkata : Bagi seseorang hamba yang punya kepentingan kepada Allah, sanjunglah Allah, baca Sholawat pada Nabi dan keluarganya sampai lupa kepentingannya, maka Allah akan memberikan tanpa harus memintanya (Al Kaafi 2/363).

69. Dua cahaya yang menikah

Dari Abi Hasan : Suatu ketika Rosulullah SAW sedang duduk. Tiba-tiba datang malaikat dengan 24 wajah, maka lantas Rosul bertanya : Wahai Jibril, aku belum pernah melihatmu seperti ini. Malaikat berkata : Wahai Muhammad, Allah mengutusku untuk menjodohkan 2 cahaya. Nabi bertanya siapa 2 cahaya itu? Malaikat menjawab,“Fatimah dengan Ali”. Setelah malaikat menoleh tiba-tiba Nabi melihat di punggung Malaikat terdapat tulisan (Muhammad utusan Allah dan Ali adalah penggantinya). Rosul bertanya sejak kapan tulisan ini ada, malaikat menjawab semenjak 22 ribu tahun sebelum Allah menciptakan Adam (Al Kaafi 1/383).

Inilah Imamah, masalah yang maha penting hingga tertulis di punggung malaikat sejak 22 ribu tahun sebelum diciptakannya Adam, tapi sayang, tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur’an yang dengan jelas mengatakan bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah.

70. Tafsir model baru

Dalam Tafsir Al Mizan jilid 19, Nurutsaqalain jilid 5 hal 197, tafsir Al Qummi jilid 2 hal 345, ketika menerangkan makna ayat ArRahman ayat 19 “dua laut yang bertemu” yaitu Ali dan Fatimah.

71. Fatimah terjaga dari menstruasi

Dari Abi Hasan berkata : Sesungguhnya putri-putri para Nabi itu tidak pernah menstruasi (Al Kaafi 1/381). Dari Abi Ja’far berkata: Ketika Fatimah dilahirkan, Allah mengutus malaikat untuk menggerakkan lisan Muhammad agar memberi nama Fatimah, kemudian berkata saya telah menyapihmu dengan ilmu dan membebaskanmu dari datang bulan. Abu Ja’far berkata : Demi Allah, Allah telah membebaskan Fatimah dari datang bulan sejak Allah mengambil perjanjian dari semua makhluk (Al Kaafi 1 / 382).

72. Perbedaan antara siang dan malam dalam pelaksanaan had

Ali berkata saya bepergian bersama Rasulullah, tidak ada pelayan selain saya, di malam hari kami tidur bertiga di bawah satu selimut, Nabi tidur di antara saya dan Aisyah dalam satu selimut itu karena Nabi tidak memiliki selimut lain. Ketika hendak sholat malam, Rosul bangun dan meletakkan selimutnya sampai selimut tersebut menyentuh kasur (Biharul Anwar jilid 40 hal 1, jilid 38 hal 297 dan 314). Padahal mereka telah meriwayatkan dari Abi Abdillah terhadap seorang pemuda yang tidur seselimut dengan seorang wanita, maka keduannya dijilid 100 kali (Al Kaafi 7 / 182). Akan tetapi Allamah Majlisi membedakan antara siang dan malam di mana, bila ditemukan seorang laki-laki dan perempuan dalam satu selimut di malam hari maka tidak ada hukuman hudud. Adapun pada siang hari, maka dihukum dengan hukuman hudud (B. Anwar 76/94).

73. Perebutan posisi imam di antara mereka yang maksum terbebas dari dosa

Syiah Rafidhah dalam menetapkan Imam mereka menggunakan cara-cara sulap, magic dan berbagai kebohongan-kebohongan. Jika memang telah ada nas atau ketetapan penunjukan mereka, maka mustahil para imam itu membuktikan status keimamannya dengan sihir, sulap dan debus.

73.1 Al Imam Zainul Abidin

Seorang wanita Syiah berkata pada Ali bin Husein, “Saya menemui Ali bin Husein. Umur saya sudah sangat tua + 113 tahun. Badan saya pun telah gemetaran. Saat itu saya lihat ia baru sholat dan sibuk dalam beribadahnya. Aku merasa putus asa, tidak akan dapat menemuinya. Tiba-tiba ia menunjuk saya dengan jari telunjuknya, dan tiba-tiba aku kembali muda ( Al Kaafi: 1 / 347).

73.2 Al Imam Husein

Orang Syiah bercerita, "Tatkala Husein dibunuh, Muhammad Ibnul Hanifah diutus untuk menemui Ali Ibnul Husein. Ia berkata padanya: Ayah telah dibunuh. Sholatkanlah ayahmu. Saya ini pamanmu dan wakil ayahmu, aku dilahirkan lebih dulu, lebih tua, maka aku lebih berhak menasehatimu. Maka janganlah kamu membantahku dan mempermasalahkan imamah, wasiat dan lain-lain.

Ali bin Husein menjawab : Mari kita selesaikan masalah ini di dekat Hajar Aswad, kita tanyai dia dan kita jadikan hajar aswad sebagi penengah di antara kita. Pergilah mereka berdua ke tampat Hajar Aswad di Ka’bah. Sesampai di sana Ali menyuruh Muhammad agar segera dan berdoa agar Allah berkenan menjadikan Hajar Aswad dapat berbicara, lalu tanyailah hajar aswad itu. Maka Muhammad segera memohon pada Allah dengan sungguh2 dan penuh kekhusyu’an. Tapi Hajar Aswad tetap diam seribu bahasa. Kemudian Ali berdoa, dan tiba-tiba bergerak dan hampir jatuh dari tempatnya, dan Hajar Aswad berbicara dengan bahasa Arab fasih :"Ya Allah sesungguhnya wasiat dan Imamah itu Pada Ali Ibnul Husain” (Al Khaafi 1/348).

73.3 Imam Musa bin Jafar

Diceritakan dari Musa bin Ja'far, saat terjadi perebutan dengan saudaranya yang lebih tua yang bernama Abdullah (anak Imam Ja’far yang tertua) dalam masalah Imamah. Musa menyuruh mengumpulkan kayu bakar di tengah rumahnya lalu ia menyuruh Abdullah datang ke rumah. Sampai di rumah ternyata dalam rumah Musa sedang duduk bersama beberapa orang Imamiyah (bermazhab Syi’ah). Setelah Musa duduk di dalam rumah, dia menyuruh seseorang untuk melemparkan api ke arah kayu. Maka terbakarlah kayu tersebut. Sebentar kemudian kayu menjadi bara. Kemudian Musa duduk diatas bara, dan memulai berbicara sesaat dengan para orang-orang. Kemudian berdiri dan mengibas-ngibaskan pakaianya dan kembali pada majelis dan berkata pada saudaranya Abdullah. Bila mengira bahwa engkau yang berhak yang menjadi Imam setelah ayahmu. Maka duduklah ditempat itu. (di atas api). (Kasyful ghummah karangan Arbali jilid 3 hal 73).

Kulaini mengisahkan cerita yang lain untuk membuktikan bahwa. Musa bin Ja’far lebih berhak dari saudara2nya yang lebih tua untuk menjadi imam, pada suatu ketika ada seseorang datang ke Musa bin Jafar dan bertanya tentang Imam, siapakah sebenarnya yang menjadi imam? Musa ia berkata : Bila aku memberi tamu apakah kau akan menerima? Ia berkata : Ya saya menerima. Musa ia berkata : Dia adalah aku. Ia berkata : Adakah sesuatu yang dapat membuktikan bahwa anda adalah Imam? Musa ia berkata : Pergilah ke pohon itu, katakan kepadanya, bahwa Musa menyuruhnya agar pohon itu datang menghadap Musa. Ia berkata : Saya mendatanginya dan menyaksikannya benar-benar telah berjalan pelan2 sampai ke hadapan Musa. Lalu Musa menyuruh pohon itu kembali (Ushulul Kafi 1/253).

73.4 Al Imam Muhamad bin Ali Aridho.

Syiah Rhofidhul menetapkan Muhamad bin Ali Aridho sebagai Imamnya. Suatu hari ada seseorang yang datang ingin menanyakan suatu perkara namun orang tersebut malu mengutarakannya. Muhamad bin Ali berkata saya akan memberitahukanmu tentang yang akan kau tanyakan, pasti kamu ingin bertanya tentang imam? Ya. Demi Allah; Imam berkata : Imam itu adalah saya. Aku berkata : “Apakah anda memiliki bukti? Di tangan Imam ada sebuah tongkat lalu tiba-tiba tongkat itu berbicara : “Sesungguhnya Tuanku ini adalah Imam dan hujjah di zaman sekarang ini.(Ushulul Al Kafi : 1/353).

Demikian, kaum Syi’ah telah membantah kaedah mereka sendiri, bahwa Imam selalu ditunjuk oleh nas dan ditunjuk oleh imam sebelumnya. Tapi di sini para imam itu membuktikan bahwa diri mereka adalah imam yang sebenarnya dengan sulap.

KHOMEINI DAN AQIDAH SYIAH SATU KEBANGKITAN YANG PALSU


Pada tahun 1977 setelah sekian lama berada di bawah sistem pemerintahan beraja, Iran mula memasuki era baru di dalam pemerintahannya apabila revolusi yang dicetuskan oleh Khomeini (seorang tokoh ulung Syiah di abad ini) dengan teori  “walayatul faqihnya” berjaya menumbangkan kerajaan Shah Reza Pahlavi. Umat Islam di mana-mana mengalami satu kejutan dalam dunia politiknya apabila negara yang ditegakkan itu berasaskan agama Islam dengan slogan-slogannya yang kelihatan Islamik dan proganda-proganda demi kesatuan umat  Islam dan masa depan mereka yang cemerlang.

Sebelum pergi lebih jauh, terlebih dahulu semestinya kita mempastikan sama ada teori “walayatul faqih” itu bersesuaian dengan agama Islam sehingga boleh dikatakan negara yang tegak di atas teori itu adalah tertegak di atas asas –asas Islam atau ianya bersesuaian dan bertepatan dengan aqidah dan ajaran Syiah Imamiyyah Itsana Asyariyyah yang dianuti oleh Khomeini sendiri dan majoriti rakyat Iran hari ini.

Untuk mengetahui sama ada teori “ walayatul faqih “ itu bersesuaian dengan ajaran Syiah Imamiyyah perlulah kita merujuk kepada para ulamak Syiah sendiri kerana merekalah yang berhak menentukan perkara  ini. Antara ulamak Syiah  yang boleh dikemukakan sebagai contoh ialah Ayatollah Hasan Thabathabdi Al Qummi. Kerana menentang teori “walayatul faqih” yang dikemukakan oleh Khomeini, beliau terpaksa menderita berbagai-bagai tekanan dan penindasan dari pihak kerajaan Khomeini sehingga dilarang bercakap menerusi telefon , menemui sahabat handai dan kaum kerabat, begitu juga dihadkan kepadanya menggunakan air dan eletrik , juga telah dihalang dari mendapat rawatan di hospital.

Beliau berpendapat tidak ada orang yang layak memegang wilayah `aammah (kekuasaan umum merangkumi sudut pemerintahan , perekonomian, ketenteraan dan sebagainya) selain daripada orang-orang yang maksum seperti para Nabi dan para Imam, kerana selain mereka biar bagaimanapun alimnya, wara’nya, bertakwanya dan adilnya namun ia tetap tidak terlepas daripada kelalaian dan kekeliruan, lupa atau mungkin dipengaruhi oleh sentimen. Adalah mustahil bagi Allah swt menentukan ketaatan kepada mana-mana kerajaan atau pemerintah yang tidak terpelihara daripada dosa dan kelalaian itu.

Menurut pendapat beliau lagi, jika keputusan faqih mesti ditaati maka akan timbul kekacauan  dan haru biru dalam masyarakat yang tidak mungkin terkawal kerana tidak mungkin kesemua faqih itu bersepakat dalam sesuatu perkara. Jadi pendapat fakih yang manakah di antara sekian ramai faqih itu mesti dipegang dan ditaati? Tentu sekali ketaatan seperti ini tidak diharuskan.

Selain daripada itu tabiat semulajadi manusia, menurut beliau ,  adalah  (manusia itu)  benar-benar derhaka. Seandainya seorang faqih itu betul-betul seorang yang adil, beragama dan jujur sehingga dapat kita katakan sifat–sifat yang ada padanya itu akan menegahnya daripada melakukan khilaf dengan  kehendak Allah dengan sengaja, tetapi mungkin ia melakukanya dengan kelalaian , bahkan mungkin ia melakukan banyak sekali percanggahan kerana kelekaan dan terlupa. Ini bererti tindak tanduknya itu menyalahi kehendak Allah dan kemaslahatan umum negara Islam.

Kata beliau lagi, “Sesungguhnya saya tidak dapat menerima dengan apa cara sekalipun pencabulan dan penghinaan terhadap  aliran Syiah dan saya tidak membenarkan mana-mana kediktatoran berlaku di dalam dunia ini”.


Akhir sekali di dalam kenyataan akhbar “Kayhan” yang diterbitkan di London beliau menyatakan secara terbuka, katanya  “Saya mengisytiharkan kepada sekelian ahli-ahli fikir dan cerdik pandai di dunia ini dan kepada sekelian umat Islam bahawa banyak tindak tanduk yang berlaku selepas terbentuknya Republik (Iran) yang “bukan Islam” atas nama Islam ini langsung tidak mempunyai hubungan dengan Islam yang sebenar dan ugama yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan bertentangan dengan sekelian nas-nas daripada Tuhan yang telah sampai kepada kita.  Saya mengisytiharkan kepada sekelian makhluk Allah bahawa tidak ada sesiapapun yang berhak untuk mengkritik Islam dengan sebab tindak-tanduk tindak-tanduk yang tidak berperikemanusiaan dan tidak berakhlak yang telah mereka (penguasa Iran) lakukan kerana tindakan–tindakan itu langsung tidak ada kena mengenanya dengan Islam, (lihat Naqdu Walayatil Faqih-Muhammad Maalullah, m.s. 27 & 28, 30 & 31)

Dr. Musa Al Musavi seorang cendiakiawan Syiah berpendapat “walayatul faqih” adalah satu bidaah yang dihubungkan dengan penguasa–penguasa yang mendakwa mereka sebagai wakil-wakil Imam Mahdi di zaman Ghaibah Kubra (Keghaiban Besar). Fikrah ini sebetulnya berpunca daripada fikrah huluhiyyah (incarnation) yang telah meresapi pemikiran Islam daripada pemikiran orang-orang Kristian yang berpendapat bahawa Allah telah menjelma di dalam Al Masih dan Al Masih pula telah menjelma di dalam Pope Agung.

Di zaman terdapatnya mahkamah-mahkamah ‘Inquisition’ di Sepanyol, Itali dan sebahagian wilayah Peranchis, Pope-Pope menghukum orang-orang Kristian dan lain-lain atas nama kekuasaan ketuhanan yang mutlak, di mana ia memerintahkan supaya seseorang dihukum gantung, dibakar atau dipenjarakan.

Bid’ah ini telah meresap ke dalam pemikiran Syiah selepas Ghaibah Kubra dan telah bertukar menjadi aqidah bilamana para ulamak Syiah sibuk membuat perincian tentang Imamah dengan mengatakan Imamah ialah suatu jawatan ketuhanan yang diberikan kepada Imam sebagai  pengganti kepada Rasulullah s.a.w. dan oleh kerana Imam itu hidup  (Imam Ke-12) tetapi ia terlindung daripada penglihatan mata kasar, maka dengan ghaibnya itu, tidaklah ia kehilangan kuasa ketuhanannya tetapi kuasanya itu berpindah kepada wakil-wakilnya kerana wakil itu menepati orang yang diwakili di dalam semua perkara (As Syiah Wa At  Tashih, m.s. 70)

Pada muka surat yang lain di dalam buku yang sama, Dr.Musa Al Musavi berkata, “Konsep walayatul faqih” bertentangan dengan nas Al Quran dan sesiapa yang menentang nas Tuhan , ia akan dikira terkeluar dari Islam.” (m.s. 73)

Sementara Ayatollah Syariat Madari, guru kepada Khomeini sendiri yang telah mengurniakan gelaran “Ayatollah” kepada Khomeini, dan merupakan seorang tokoh ulamak atau faqih yang sangat besar dalam istilah mereka. Beliau telah memberi sumbangan yang besar dan memainkan peranan yang penting dalam mencetuskan revolusi Iran itu.  Dalam umurnya yang telah menjangkau 80 tahun, telah diserbu oleh algojo-algojo Khomeini kerana menentang pendapatnya berhubung dengan” walayatul faqih”. Ayatollah Syariat Madari juga seperti tokoh-tokoh Syiah yang lain membataskan kekuasaan faqih dalam bidang-bidang tertentu sahaja. Khomeini telah menghantarkan 10,000 orang  algojo-algojonya supaya menyerbu rumah Ayatollah Syariat Madari untuk membunuh beliau dan pengikut-pengikutnya-(Dr.Musa Al Musavi-At Tsauratuu Al Baaisah hal.51),

Demikianlah kita lihat teori “walayatul faqih” itu adalah satu teori yang dikemukakan dan dipraktikkan oleh Khomeini tetapi ditentang dengan hebat oleh tokoh-tokoh ulamak Syiah dan mereka tidak mahu menerima teori itu sebagai sebahagian dari ajaran Syiah.

Untuk mengetahui sama ada teori “walayatul faqih” itu bersesuaian dengan agama Islam yang sebenar yang dianuti oleh majoriti penganut agama Islam di dunia ini, perlulah kita membandingkan di antara aqidah Syiah anutan Khomeini dengan akidah Islam yang dianuti oleh majoriti umat Islam itu atau dengan kata lain, akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Walayatul faqih adalah satu teori penubuhan negara yang dikemukakan oleh  Khomeini dan dikuliahkan oleh beliau sekian lama kepada penganut-penganut Syiah dengan alasan Naib Imam boleh menggantikan Imam dalam menubuhkan sesebuah negara dan penubuhan itu dianggap sah setelah mereka putus asa pada hakikatnya dengan “kemunculan Mahdi”yang tak kunjung datang (Khomeini–Al Hukumah Al Islamiyyah, m.s. 74) . Sedangkan mengikut akidah Syiah, tidak ada sebuah kerajaan Syiah pun yang boleh ditubuhkan atau ditegakkan sebelum kemunculan Imam Mahdi.

Mengikut Syiah, setiap negara yang ditegakkan sebelum kemunculan Imam Mahdi adalah tidak sah walaupun pembawanya berada di atas jalan yang benar. Al Kulaini meriwayatkan dari Abi Bashir dari Abi Abdillah (Jaafar Shadiq) bahawa beliau berkata, “Setiap orang yang menjulang bendera sebelum Qaaim (Al Mahdi) adalah taghut yang disembah selain dari Allah SWT.” (Ar Raudhah Min Al Kafi, m.s.295)

Pensyarah kitab Al Kafi,  Maula Muhammad Soleh Al Maazan Daraani (wafat 1080 H) di dalam syarahnya terhadap kitab Al Kafi yang dianggap sebagai syarah Al Kafi yang muktamad menyebutkan bahawa,  “walaupun orang yang menjulangnya itu menyeru kepada kebenaran” (Syarah Al Kafi ,jilid  2 m.s. 371)

Muhammad Husain Al Kasyifin Ghitha’ juga menyatakan kepercayaan Syiah tentang terbatasnya wilayah `aammah kepada para imam sahaja. Kata beliau, “Syiah Itsna Asyariyyah mempercayai wilayah umum (kekuasaan umum) terhadap Islam tergantung pada beberapa orang yang termaklum nama- nama dan bilangan mereka.Mereka telah di pilih oleh Allah sebagaimana Ia memilih para Nabinya .”(Ashlu As Syiah Wa Ushuluha, m.s. 58)

Sementara Ayatollah Al Uzma Muhammad Al Husaini Al Baghdadi An Najafi pula mengatakan, “Sesungguhnya terlalu banyak riwayat daripada para imam yang mengharamkan pemberontakkan terhadap musuh-musuh dan sultan-sultan yang sezaman dengan mereka” (Wujubu An Nahdhah li Hifdzi Al Baidhah, m.s. 93)

KHOMEINI DAN AQIDAH SYIAH

Di dalam beberapa perkara , Khomeini memang telah menyalahi ajaran Syiah dipegang oleh majoriti Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah. Antaranya ialah teori walayatul faqih seperti yang telah dikemukakan sebelum ini. Kerana itu adalah benar jika dikatakan ajaran dan`trend’ yang dibawa oleh Khomeini ini merupakan satu pecahan baru kepada aliran Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah dan boleh kita namakan dengan “Khomeinism”. Tetapi pada keseluruhannya Khomeini tetap berpegang teguh dengan aqidah dan ajaran Syiah yang diterima di kalangan Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah secara turun temurun. Boleh dikatakan tidak ada perbezaan di dalam aqidah dan ajaran Syiah yang diterima oleh generasi Syiah yang dahulu dengan Syiah yang diterima oleh Khomeini ini. Kalaupun ada , hanyalah dari segi mempraktikkan konsep taqiyyah dengan seluas-luasnya sampai ke peringkat negara dan antarabangsa. Antara yang dapat kita lihat dengan ketara sekali ialah aqidah Khomeini  tentang  Imamah, ismah, takrif Al Quran, takfir sahabat , taqiyyah, mut`ah dan lain –lain lagi.

Syiah dahulu mempercayai Imamah, iaitu kepercayaan bahawa Imam-imam dilantik dan ditentukan oleh Allah s.w.t. Imamah merupakan salah satu rukun iman. Sesiapa yang tidak percaya kepada rukun ini, tidaklah ia termasuk golongan orang-orang mukmin. Khomeini juga mempercayai demikian.

Di dalam kitabnya Al Hukumah Al Islamiyyah di bawah tajuk “Wilayah Takwiniyyah” Khomeini berkata, “Sesungguhnya di antara aqidah aliran kita yang asasi dan terpenting ialah para Imam (Dua Belas) kita mempunyai darjat dan kedudukan yang tidak sampai kepadanya Malaikat Muqarrab dan Nabi lagi Rasul (Al Hukumah Al Islamiyyah, m.s.  52 ). Di tempat yang lain Khomeini menulis, “Pengajaran –pengajaran para Imam sama seperti pengajaran Al Quran,  tidak khusus untuk generasi tertentu malah ia adalah pengajaran untuk semua di setiap masa dan negeri dan wajib diikuti sampai hari qiamat.” (Al Hukumah Al Islamiyyah, m.s. 113)

Jika Syiah dahulu mempercayai para Imam Dua Belas itu adalah maksum (terpelihara dari dosa-dosa sama ada besar atau kecil) mereka juga tidak tersalah dan tersilap di dalam tindak tanduknya; Syeikh Muhammad Ridha  Al Muzaffar di dalam kitabnya  ‘Aqaaid Al Imamiyyah’ menegaskan bahawa di antara aqidah golongan Imamiyyah ialah Imam itu mestilah terpelihara (maksum) daripada kelalaian , tersalah dan terlupa (`Aqaaid Al Imamiyyah, m.s.72) maka Khomeini juga demikian . Kata Khomeini,” Kita tidak dapat menggambarkan para Imam itu lupa dan lalai.” (Al hukumah Al islamiyyah, m.s. 91)

Syiah mempercayai Al Quran telah ditakrifkan (diselewengkan). Ni`matullah Al Jazaairi di dalam kitabnya Al Anwar An Nu`maniyyah mengatakan “Sesungguhnya Al Quran sebagaimana telah diturunkan tidaklah ditulis kecuali oleh Amirul Mukminin (Alia.a.s.) dengan wasiat daripada Nabi s.a.w. Maka selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. Sayyidina Ali sibuk mengumpulkannya  selama enam  bulan. Setelah dia mengumpulkannya sepertimana ia diturunkan (kepada Rasulullah s.a.w.)  diapun membawa Al Quran itu kepada orang-orang yang telah berlaku curang setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. (maksudnya Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina Umar dan Sayyidina Uthman)……..dan di dalam Al Quran itu terdapat banyak tambahan (daripada Al Quran yang ada pada masyarakat umum umat Islam di setiap zaman). Ia kosong daripada sebarang tahrif (penyelewengan)  (Al Anwar An Nu’maniyyah jilid 2 m.s. 360). 

Khomeini juga di dalam bukunya “Kasyful Asrar” walaupun tidak dengan secara terbuka dan terus terang mengatakan Al Quran ini telah ditahrifkan tetapi daripada kata-katanya secara logik dapat disimpulkan bahawa dia juga tidak berbeza dengan Syiah-syiah lain dalam soal ini.  Umpamanya , di satu tempat Khomeini menulis sebagai menjawab kepada kemungkinan soalan ditimbulkan tentang kenapakah Imam itu tidak disebutkan di dalam Al Quran?

Sebagai menjawabnya, Khomeini mengemukakan beberapa andaian antaranya ialah andaian keempat yang bermaksud, “Kalaupun Allah telah menyebutkan nama Imam secara terang-terangan di dalam Al Quran, namun orang-orang yang hanya memeluk agama Islam dan menerima Al Quran semata-mata kerana kepentingan dunia dan untuk mendapat kuasa. Mereka telah menjadikan Al Quran itu sebagai alat dan sarana untuk sampai kepada matlamat –matlamat mereka yang rosak itu Kerana itu mungkin sekali mereka ini akan mengeluarkan daripada Al Quran ayat-ayat yang menyebutkan nama Imam-imam itu dan melakukan tahrif terhadap kitab suci dari langit itu dengan melenyapkannya dari pandangan manusia selama-lamanya. Maka sampai qiamat kenyataan ini akan memalukan umat Islam dan mengaibkan Al Quran dan dengan itu kritikan yang mereka hadapkan kepada orang-orang Yahudi dan Kristian berhubung dengan kitab-kitab mereka yang sudah ditahrifkan (diselewengkan) akan mengenai diri mereka dan Al Quran,  kitab mereka sendiri. (Kasful Asrar, m.s. 114)

Sekiranya Syiah dahulu begitu benci dan dendam terhadap para sahabat sehingga luahan dendam mereka itu dapat dilihat dengan jelas sekali di dalam tulisan ulamak-ulamak mereka dan hampir tidak dapat ditemui sebuah kitab Syiah yang tidak memuatkan caci maki sumpah seranah terhadap sahabat. Maka Khomeini juga tidak terbelakang dalam akidah dan tabiat ini.

Kenyataan dapat dilihat umpamanya di celah-celah tulisannya  antaranya, “Abu Bakr dan Umar telah banyak menyalahi hukum-hukum Allah yang terang. Mereka berdua telah banyak mempermain-mainkan hukum-hukum Tuhan. Mereka telah menghalalkan dan mengharamkan dari pihak diri-sendiri. Mereka berdua telah melakukan kezaliman terhadap Fatimah dan anak cucunya” (Kasyful Asrar, m.s. 110).  Khomeini juga di antara 6 orang yang telah mengesahkan dan merestui kitab “Tuhfatul Awam” yang mengandungi doa supaya Allah melaknat Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina Umar dan pengikut-pengikutnya. Antara lain doa itu bermaksud, “Ya Allah!Laknatlah dua berhala quraisy, dua jiblnya, dua taghutnya, dua orang yang malang dari kalangan mereka dan dua orang anak perempuan mereka. Mereka berdua telah melanggar perintahMu, mengingkari wahyuMu, menolak kurniaanMu dan derhaka kepada RasulMu.  Mereka berdua telah mengubah agamaMU dan menyelewengkan KitabMu, mereka berdua telah menyintai musuh-musuhMu, menolak nikmat-nikmatMu dan telah menghentikan hukum-hukumMu …….”dan seterusnya . Dua orang tersebut yang diminta supaya dilaknat oleh Allah itu ialah Abu Bakr dan Umar.
  

Betapa dalamnya rasa dendam dan benci di dalam hati Khomeini terhadap para sahabat Rasulullah s.a.w, dapat dilihat pada tulisan-tulisannya di dalam kitabnya Kasyful Asrar. Dia menulis, “Kita hanya menyembah Tuhan yang segala perbuatanNya tegak di atas asas kebijaksanaan dan tidak bercanggah dengan akal. Kita tidak menyembah Tuhan yang mendirikan sebuah bangunan yang megah untuk ibadat, keadilan dan ugama, kemudian merobohkan sendiri bangunan itu dengan melantik orang-orang yang jahat seperti Yazid, Muawiyyah, Utsman dan lain-lain sebagai khalifah serta tidak menentukan nasib umat sesudah wafat NabiNya.” (Kasyful Asrar, m.s. 107)

Kalau Tuhan yang telah melantik mereka itu menjadi khalifah, tidak disembah oleh Khomeini, maka Tuhan manakah yang disembahnya? Adakah Tuhan lain selain Allah telah melantik mereka itu sebagai khalifah?!

Syiah dahulu telah mengemukakan kata-kata dan anjuran para Imam tentang mut’ah; fadhilatnya, keistimewaannya dan bagaimana orang yang tidak melakukan mut’ah itu tidak terbilang sebagai Syiah. Khomeini pergi lebih jauh dan ke halaman yang lebih terang apabila ia menulis di dalam kitabnya “Tahrirul Wasilah” bahawa mut’ah boleh dilakukan dengan perempuan Yahudi, Nasrani, dan Majusi juga dengan pelacur-(Tahrirul Wasilah, jilid 2 hal.292)


Seandainya Syiah dahulu mengamalkan konsep taqiyyah dan mempercayai taqiyyah sebagai salah satu ciri keimanan yang terpenting, maka Khomeini juga menganjurkan orang-orang Syiah supaya bertaqiyyah dengan orang-orang Ahli Sunnah Wal Jamaah. Umpamanya beliau berkata, “Perkara kedua (yang membatalkan sembahyang) ialah takfir iaitu meletakkan satu tangan di atas tangan yang lain (dakap qiam) seperti yang dilakukan oleh orang-orang bukan dari kalangan kita. Tetapi tidak mengapa melakukannya dalam taqiyyah” (Tahrirul Wasilah jilid m.s. 186). Dia berkata lagi, “Dan sengaja mengucapkan ‘Amin’ selepas selesai membaca  fatihah (juga membatalkan sembahyang) kecuali kerana taqiyyah , tidak mengapa mengucapkan .”(Tahrirul Al Wasilah ,jilid  1 m.s. 190)

Sesetengah kalangan terpedaya apabila Khomeini menganjurkan penganut-penganut Syiah bersembahyang berimamkan Imam masjidil Haram ketika mereka berada di Mekah.  Mereka berhujjah dengan mengatakan bahawa Khomeini tidak seperti Syiah pelampau yang menganggap tidak sah bersembahyang di belakang Ahli Sunnah kerana beliau sendiri menganjurkan supaya diikut Imam Masjidil Haram yang beraqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, padahal kalaulah mereka sedar betapa besarnya senjata taqiyyah ini di sisi Syiah sehingga dikatakan 9/10 ugama terletak dalam taqiyyah tentulah mereka tidak terpedaya dengan anjuran Khomeini itu.

  
Ini kerana mengikut aqidah Syiah bersembahyang di belakang Ahli Sunnah secara taqiyyah sama seperti berimamkan Rasulullah s.a.w. di dalam saf pertama. Mereka meriwayatkan daripada Jaafar As Shadiq bahawa beliau berkata, “Sesiapa bersembahyang di belakang Imam Ahli Sunnah Wal Jamaah secara taqiyyah seolah-olah ia bersembahyang dalam saf pertama dengan berimamkan Rasulullah s.a.w.”  (Man La  Yahhurihul Faqih , j.hal.250)

Sementara itu di dalam kitab Jaamul Akhbar m.s. 108, Jaafar As Shadiq berkata, “Sesiapa bersembahyang di belakang munafiqin secara taqiyyah ia seperti bersembahyang di belakang para Imam (Ibn Babwaih Al Qummi-Jaamiul Akhbar, hal.108)

Dari kenyataan-kenyataan Syiah ini dapat kita mengetahui betapa Khomeini telah mempraktikkan apa yang tersebut di dalam kitab-kitab Syiah itu. Sebabnya menurut ajaran Syiah yang sebenar, tidak ada perbezaan sembahyang Ahli Sunnah dengan perzinaan yang dilakukannya (Al Kufi, jilid 8 m.s. 162, tafsir Al Burhan, jilid  4 hal 453) dan tidak sah bersembahyang di belakang mereka (Ahli Sunnah)-(At Thusi- An Nihayah , hal.112)

Amalan taqiyyah ini begitu penting dan istimewa sekali di sisi Syiah sehingga Jaafar As Shadiq diriwayatkan ada berkata, “Mengamalkan taqiyyah itu lebih afdal dari sedekah, haji dan berjihad.”(Ibn Babwaih Al Qummi –Jaamiul Akhbar, hal.108)

  
Ini hanya sebahagian kecil daripada aqidah dan amalan orang-orang Syiah, yang juga merupakan aqidah dan amalan Khomeini , sedangkan jika ditinjau dari pandangan Islam dan jika ditimbang dengan neraca keislaman dan keimanan yang sedia ada pada kita Ahli Sunnah Wal Jamaah yang merupakan majoriti  umat Islam di setiap zaman, orang-orang yang menganut aqidah dan kefahaman seperti yang tersebut itu adalah sesat dan kafir.

Aqidah Imamah yang merupakan Rukun Iman disisi Syiah tidak menjadi akidah kepada Ahli Sunnah Wal Jamaah kerana itu secara tidak langsung golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah mengikut akidah Syiah adalah bukan  mukmin    dan bukan Islam dan serentak dengan itu membuktikan bahawa perbezaan di antara  Ahli Sunnah Wal Jamaah dan Syiah bukanlah di sudut cabangan tetapi dari sudut aqidah dan pegangan hidup.

Bagi kita umat Islam, sesuatu itu hanya menjadi aqidah apabila terbukti dalam Al Quran dan As Sunnah yang mutawatir dengan jelas dan ertinya tidak menerima takwilan (qat’iyu as –subut wa ad dalalah) sedangkan tidak ada satupun ayat dalam Al Quran yang jelas yang tidak menerima takwilan berhubung dengan Imamah ini atau keadaan Imam Dua Belas itu sebagai imam yang wajib ditaati, dilantik oleh Allah,  terpelihara dari dosa dan sebagainya


Konsep Ismah dalam aqidah Syiah juga meletakkan para Imam melebihi para  Nabi seperti yang dapat kita lihat dengan jelas dalam tulisan Khomeini sedangkan mengikut ulamak Ahli Sunnah Wal Jamaah seperti yang digambarkan oleh Qadhi Iyadh Al Maliki bahawa, “Kita menghukum putus tentang kufurnya orang-orang yang mempercayai para Imam lebih utama dari para Nabi.” (As Syifa’, jilid 2 m.s. .290)

Jika Syiah sudah sampai mempercayai keterpeliharaan para Imam bukan sahaja daripada dosa tetapi juga daripada tersalah dan terlupa,  tidakkah aqidah ini bererti mempercayai para Imam itu melebihi para Nabi? Kerana para Nabi itu hanya terpelihara daripada dosa tetapi tidak terpelihara daripada tersilap dan terlupa seperti yang jelas tersebut di dalam Al Quran dan As Sunnah.

Konsep Imamah dan Ismah yang dikemukakan oleh Syiah ini pada hakikatnya menyerang konsep ‘Khatmu An Nubuwwah’ yang merupakan salah satu aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah. Mempercayai konsep ini mengikut Ahli Sunnah Wal Jamaah akan menjunamkan seseorang ke jurang kezindiqan dan riddah.

Syah Waliyyullah menyatakan perkara ini di dalam kitabnya “Al Musawwa”, katanya, “Demikian juga umpamanya orang yang mengatakan Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina Umar bukan ahli syurga , sedangkan hadith yang menceritakan mereka berdua ahli syurga adalah mutawatir atau ia berkata memang Nabi Muhammad adalah penyudah sekelian Nabi tetapi maksud penyudah sekelian Nabi itu ialah tidak harus seseorang yang datang selepasnya dinamakan dengan Nabi. Adapun intisari dan hakikat kenabian iaitu keadaan seseorang itu diutuskan daripada pihak Allah kepada makhlukNya, wajib ditaati, terpelihara daripada dosa dosa dan terpelihara daripada berterusan di atas kesalahan dan kesilapan pada pendapatnya; intisari-intisari dan hakikat-hakikat itu ada pada Imam-imam selepasnya.  Maka orang yang berfahaman seperti itu adalah zindiq. Jumhur ulamak mutaakhirin dari kalangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah sepakat menghukumkan supaya orang yang seperti itu dibunuh.” (Musawwa Syarah Muwattha Imam Malik , jilid 2 , m.s.110)

Syiah mempercayai Al Quran yang ada ini telah ditahrifkan tetapi mengikut Ahli Sunnah Wal Jamaah, orang yang mempercayai Al Quran ini telah diselewengkan atau ditahrifkan isinya walaupun satu ayat adalah terkeluar dari Islam. Maka kerana umat Islam tidak dapat menerima Syiah yang mempunyai kepercayaan yang  seperti itu terhadap Al Quran,  mereka (Syiah) mula memilih strategi baru di dalam pegembangannya iaitu mengisytiharkan kepada seluruh umat Islam bahawa mereka juga mempercayai Al Quran yang dipercayai oleh Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Tetapi Al Quran yang ada ini telah diterima oleh kedua-dua pihak Ahli Sunnah dan juga Syiah sebagai Al Quran yang dikumpulkan oleh para sahabat dan merekalah yang menulisnya sedangkan mereka (sahabat) jika kita nilaikan dengan penilaian yang dapat kita ambil dari tulisan Khomeini. Adalah orang-orang yang jahat, yang berpura-pura memeluk agama Islam.

Tidakkah timbul tandatanya di dalam kepala kita yang telahpun Islam ini atau orang-orang yang bukan Islam bahawa, “Tidakkah mungkin Al Quran ini telah ditokok tambah oleh para sahabat yang begitu jahat peribadinya dan mempunyai kepentingan politiknya di dalam menganut agama Islam ?”

Bagaimanakah dari segi logiknya golongan Syiah dapat menerima Al Quran ini sebagai benar , tidak diselewengkan atau ditukargantikan isinya oleh para sahabat yang mereka anggap sebagai seburuk-buruk manusia bahkan telah murtad setelah kewafatan Rasulullah s.a.w , hanya tinggal segelintir sahaja yang masih tetap dengan Islam , itupun secara sembunyi-sembunyi atau taqiyyah??

Berkenaan dengan sahabat pula, bagi kita umat Islam , mereka adalah sebaik-baik generasi dari umat Muhammad s.a.w. kerana mereka adalah generasi yang telah menerima pengajaran dan pendidikan Rasulullah s.a.w. secara langsung Allah s.w.t. berfirman yang maksudnya:

“Sesungguhnya Allah telah mengurniakan nikmat yang besar kepada orang-orang mukmin kerana ia telah mengutuskan seorang Rasul dari kalangan mereka ,yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, membersihkan jiwa mereka serta mengajarkan Al Kitab (Al Quran) dan hikmat kebijaksanaan walaupun sebelum itu mereka berada di dalam kesesatan yang nyata.”  (Ali Imran:164)


Jika kita menerima aqidah Syiah tentang sahabat, bermakna kita telah mengingkari nikmat besar yang telah dikurniakan oleh Allah kepada para  sahabat itu iaitu satu nikmat yang sungguh besar sehingga disebut sendiri oleh Allah. Di samping kita menganggap Rasulullah s.a.w. telah gagal di dalam pengajaran dan usaha–usaha membersihkan peribadi mukmin , apakah sahabat-sahabat yang begitu jahat, berperibadi hina, berpaling tadah dan mengkhianati Rasulullah s.a.w. sepeninggalan Baginda s.a.w. seperti yang dipercayai oleh Syiah itu layak disebutkan oleh Allah sebagai suatu keistimewaan dan nikmat dari pihaknya, sedangkan setelah sekian lama mereka mendapat pengajaran dan pendidikan Rasulullah s.a.w. mereka tetap sesat bahkan menyesatkan pula umat Rasulullah s.a.w??

Bagi Ahli Sunnah Wal Jamaah keimanan para sahabat dan peribadi mereka merupakan pengukur dan penilai kepada keimanan dan peribadi orang-orang selain mereka. Ini adalah berdasarkan firman Allah yang bermaksud;

“Maka kalau mereka beriman sebagaimana kamu (sahabat) beriman (dengan Kitab-kitab Allah dan RasulNya ), maka sesungguhnya mereka telah beroleh petunjuk (terpimpin)” (Al Baqarah : 137)

  
Sebenarnya golongan Syiah yang pada hakikatnya adalah musuh Islam telahpun merancang untuk merobohkan Islam secara total di sebalik mereka menghentam dan memukul para sahabat itu. Betapa tidaknya , jika sahabat itu diragui dan dipertikaikan bukan sahaja hadith-hadith akan dipertikaikan atau ditolak bahkan Al Quran sendiri akan tertolak dan dipertikaikan kerana kedua-dua asas Islam ini disampaikan kepada generasi kemudian oleh para sahabat Rasulullah s.aw. Hakikat ini telahpun disedari oleh ulamak Islam sejak zaman berzaman lagi.

Sebagai contohnya dapat kita kemukakan pendapat seorang tokoh ulamak hadith yang terkenal dari kalangan salaf iaitu Imam Abu Zur’ah Ar Razi (w.264h). Kata beliau ,”Bila engkau lihat seseorang mencari-cari kesalahan mana-mana sahabat  Rasulullah s.a.w, maka ketahuilah bahawa sesungguhnya orang itu adalah zindiq kerana Rasulullah s.a.w. di sisi kita adalah benar dan Al Quran (juga)benar. Al Quran dan As Sunnah disampaikan kepada kita oleh sahabat–sahabat Rasulullah s.a.w. itu. Mereka sebenarnya mahu mencederakan saksi-saksi kita untuk membatalkan Al Quran dan As Sunnah. Mereka itulah yang patut dicederakan Itulah dia orang-orang zindiq.” (Khathib Baghdadi-Al Kifayah Fi Ilmi Ar Riwayah , hal.49)


KESIMPULAN
(1)        Daripada perbincangan yang lalu nyatalah kepada kita bahawa kebangkitan “Republik Islam Iran” yang berteraskan walayatul faqih itu adalah satu kebangkitan yang palsu ditinjau dari sudut ajaran Syiah dan juga dari sudut ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah. Ianya lebih tepat dengan nama “Kebangkitan Khomeinism “yang langsung tidak ada kaitannya dengan agama Islam yang suci.
(2)    Penamaan sesebuah negara sebagai sebuah negara Islam tidaklah menjadikan sesebuah negara itu Islam pada hakikatnya kerana negara Islam dalam istilahnya ialah negara yang polisi pemerintahannya terletak di tangan orang-orang Islam yang benar dalam aqidahnya sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah yang sahih serta mendaulatkan segala hukum hakam Islam yang berpunca daripada kedua-duanya.  Sesebuah negara itu tidaklah menjadi negara Islam semata- mata dengan menamakannya sebagai “Negara Islam” tetapi ianya mestilah memenuhi tuntutan –tuntutannya dalam istilah yang diterima oleh ulamak Islam

Imam Jalaluddin As Suyuthi tidak menyenaraikan kerajaan Ubaidiyyin atau lebih dikenali dengan kerajaan Fathimiyyin atau Fathimiyyah sebagai kerajaan Islam . Ini disebabkan kekhalifan mereka tidak sah kerana beberapa sebab. Antara yang disebutkan oleh beliau ialah kebanyakan mereka itu adalah golongan zindiq yang telah terkeluar dari agama Islam. Ada diantara mereka yang memaki para Nabi secara terang-terangan ada yang memerintah supaya dimaki para sahabat r.a.. Dan lain-lain kekarutan yang tidak ada kena mengenanya dengan Islam.  (Lihat Tarikhu Al Khulafa, m.s.6 dan 7)


(3)        Teori “walayatul faqih” pada hakikatnya adalah suatu usaha pemindahan kuasa Imam Mahdi (Syiah) oleh segelintir ulamak Syiah dan telah dibuktikan secara praktikal oleh Khomeini kepada orang-orang yang dianggap sebagai wakil-wakilnya , setelah pada hakikatnya mereka berputus asa dan yakin bahawa Imam Mahdi itu tidak akan muncul.

Dengan adanya pemindahan kuasa ini , dapatlah wakil-wakil Imam Mahdi itu melaksanakan apa yang dipercayai akan dilakukan oleh Imam Mahdi selepas kemunculannya dan selepas apa yang dinamakan di dalam istilah Syiah sebagai “raj’ah”.Antara yang akan berlaku menurut kepercayaan mereka ialah : Imam Mahdi membongkar kubur Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina Umar dan lain-lain yang kononnya memusuhi Ahlul  Bait, melaksanakan hukum hudud terhadap Aishah yang dituduh oleh mereka telah berzina dengan Safuan sahabat Rasulullah s.a.w , merobohkan Ka’bah dan melakukan banyak pembunuhan atau penghapusan etnik Arab juga melayani orang-orang Ahli Sunnah dengan seburuk-buruk layanan.
(4)        Musuh-musuh Islam di zaman moden ini dengan bersenjatakan ajaran Syiah atau Khomeinism sebenarnya mahu melihat kembali kejayaan yang pernah dicapai oleh nenek moyang mereka di permulaan sejarah Islam melalui slogan-slogan cintakan Ahlul Bait. Sememangnya cukup lunak slogan itu sehingga begitu ramai yang terpengaruh dengannya. Kalau di zaman permulaan Islam ketika mana masih ramai lagi para sahabat Rasulullah s.a.w yang mendapat pendidikan secara langsung dari Baginda s.a.w daayah ini telah mencetuskan satu fitnah yang telah memporak–porandakan umat sampai terbunuh syahid Sayyidina Uthman bin Affan. Maka tentu sekali mengikut perkiraan mereka dalam keadaan  umat Islam lupa akan sejarah silam dan sebahagian besar daripada sejarah Islam itu telah diselewengkan , umat ini boleh diporak-porandakan dengan senjata yang sama.
(5)        Penonjolan Syiah sebagai alternatif bertujuan memurtadkan umat Islam secara besar-besaran ataupun menjadikan mereka zindiq iaitu golongan yang merasakan mereka benar-benar beragama padahal sebenarnya mereka menyimpang jauh dari landasan agama.
(6)        Kebangkitan Syiah dalam bentuk sebuah negara adalah suatu yang direncanakan oleh musuh-musuh Islam apabila mereka menyedari telah lahir sebilangan besar umat Islam yang tidak dapat disisihkan daripada landasan menuju ke arah Islam yang menyeluruh dengan menyebarluaskan di antara mereka bahan- bahan hiburan dan gaya hidup berpoya-poya. Hanya tinggal satu sahaja cara yang dapat memusnahkan golongan ini iaitulah dengan bertopengkan nifaq. Kejayaan mereka kerana menggunakan cara ini sungguh memuaskan hati mereka justeru bukan orang-orang jahil dan fasiq telah dapat dipesongkan tetapi orang-orang yang benar-benar telah bersemangat agama atau orang-orang yang telah sekian lama patuh beragama.
(7)        Kebangkitan sebuah negara atas nama Islam yang berteraskan “walayatul faqih” dan ajaran Syiah secara keseluruhannya adalah suatu yang dirancangkan oleh musuh-musuh Islam untuk mengalihkan pandangan umat Islam daripada metode dan matlamat perjuangan mereka yang sebenar dengan menjadikan negara “Walayatul Faqih” sebagai contoh sebuah negara Islam yang kononnya berpandukan Al Quran dan As Sunnah .


Matlamat mereka ialah apabila umat Islam menjadikan negara Syiah sebagai contoh tentulah mereka (umat Islam) akan bertanya dan seterusnya mengamalkan segala apa yang telah menjadi unsur-unsur kepada kejayaan negara yang menjadi contoh itu terutama sudut aqidah dan kepercayaannya. Apabila ini berlaku bererti umat Islam telah gagal juga di dalam usaha mereka menegakkan sebuah negara Islam tulin, kerana negara yang telah dijadikan contoh itu sebenarnya adalah negara Islam yang palsu.

PENUTUP
Kerana aqidah-aqidah dan kepercayaan–kepercayaan yang tersebut sebelum inilah, ulamak-ulamak Islam yang lampau menganggap golongan Syiah ini melampau, tidak boleh dijadikan hujjah dan dihormati terutamanya kerana adanya aqidah taqiyyah pada mereka itu yang pada hakikatnya adalah nifaq. Justeru itu Imam Az Zahabi umpamanya mengatakan , “Golongan Syiah yang melampau seperti ini tidak boleh dijadikan hujjah dan dihormati apalagi hari ini saya tidak menemui seorangpun dari golongan ini yang benar dan boleh dipercayai kerana bohong telah menjadi syiar mereka, taqiyyah dan nifaq telah menjadi selimut mereka.”(Az Zahabi-Mizan Al- I’tidal, j.1hal.6)
Imam Jaafar As Shadiq sendiri yang dianggap oleh golongan Syiah sebagai Imam Maksum mereka yang keenam ada berkata, dan dinukilkan kata-katanya itu oleh tokoh ulamak Syiah, Syeikh At Thusi di dalam kitabnya “Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal” (sebuah kitab Syiah) bahawa,”Tidak ada satupun ayat yang diturunkan oleh Allah tentang golongan munafiqin melainkan kandungan ayat itu pasti ada pada orang yang menganut fahaman Syiah.” (Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal, hal. 1)

Al Quran dan As Sunnah mengajarkan kepada kita bahawa selain daripada Muslim dan kafir di sana terdapat juga satu golongan lagi yang dinamakan munafiq.
           
Sebagaimana Al Quran mengajar kepada kita bagaimana cara menghadapi orang-orang kafir, ia juga menceritakan kepada kita tentang sifat -sifat orang munafiq dan mengajar bagaimana cara-cara kita berhadapan dengan mereka. Umat Islam yang meletakkan di hadapannya ayat-ayat Al Quran dan As Sunnah yang menyebutkan sifat-sifat munafiq itu tentu tidak akan terpedaya dengan tipu helah golongan ini dan tidak akan terpukau dengan kepalsuan ajaran mereka. Antara ayat terpenting yang dapat membimbing kita di dalam hal ini ialah firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (kerana) mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu , mereka berkata,”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit hujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu kerana kemarahanmu itu “Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”
(Ali ‘Imran: 118-119)