Sunday, November 7, 2010

Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab.

Nasab dan Kelahirannya bin Tsabit bin Zuthi (ada yang mengatakan Zutha) At-Taimi Al-Kufi
Beliau adalah Abu Hanifah An-Nu’man Taimillah bin Tsa’labah. Beliau berasal dari keturunan bangsa persi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 H pada masa shigharus shahabah dan para ulama berselisih pendapat tentang tempat kelahiran Abu Hanifah, menurut penuturan anaknya Hamad bin Abu Hadifah bahwa Zuthi berasal dari kota Kabul dan dia terlahir dalam keadaan Islam. Adapula yang mengatakan dari Anbar, yang lainnya mengatakan dari Turmudz dan yang lainnya lagi mengatakan dari Babilonia.

Perkembangannya

Ismail bin Hamad bin Abu Hanifah cucunya menuturkan bahwa dahulu Tsabit ayah Abu Hanifah pergi mengunjungi Ali Bin Abi Thalib, lantas Ali mendoakan keberkahan kepadanya pada dirinya dan keluarganya, sedangkan dia pada waktu itu masih kecil, dan kami berharap Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Ali tersebut untuk kami. Dan Abu Hanifah At-Taimi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera, bahkan dia punya toko untuk berdagang kain yang berada di rumah Amr bin Harits.

Abu Hanifah itu tinggi badannya sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara, suaranya bagus dan enak didengar, bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu memakai minyak wangi, bagus dalam bermajelis, sangat kasih sayang, bagus dalam pergaulan bersama rekan-rekannya, disegani dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna.
Beliau disibukkan dengan mencari atsar/hadits dan juga melakukan rihlah untuk mencari hal itu. Dan beliau ahli dalam bidang fiqih, mempunyai kecermatan dalam berpendapat, dan dalam permasalahan-permasalahan yang samar/sulit maka kepada beliau akhir penyelesaiannya.

Beliau sempat bertemu dengan Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah dan belajar kepadanya, beliau juga belajar dan meriwayat dari ulama lain seperti Atha’ bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, Asy-Sya’bi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj al-A’raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi’, Nafi’ Maula Ibnu Umar, Qotadah bin Di’amah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru fiqihnya, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi. Dan ada yang meriwayatkan bahwa beliau sempat bertemu dengan 7 sahabat.

Beliau pernah bercerita, tatkala pergi ke kota Bashrah, saya optimis kalau ada orang yang bertanya kepadaku tentang sesuatu apapun saya akan menjawabnya, maka tatkala diantara mereka ada yang bertanya kepadaku tentang suatu masalah lantas saya tidak mempunyai jawabannya, maka aku memutuskan untuk tidak berpisah dengan Hamad sampai dia meninggal, maka saya bersamanya selama 10 tahun.

Pada masa pemerintahan Marwan salah seorang raja dari Bani Umayyah di Kufah, beliau didatangi Hubairoh salah satu anak buah raja Marwan meminta Abu Hanifah agar menjadi Qodhi (hakim) di Kufah akan tetapi beliau menolak permintaan tersebut, maka beliau dihukum cambuk sebanyak 110 kali (setiap harinya dicambuk 10 kali), tatkala dia mengetahui keteguhan Abu Hanifah maka dia melepaskannya.

Adapun orang-orang yang belajar kepadanya dan meriwayatkan darinya diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abul Hajaj di dalam Tahdzibnya berdasarkan abjad diantaranya Ibrahin bin Thahman seorang alim dari Khurasan, Abyadh bin Al-Aghar bin Ash-Shabah, Ishaq al-Azroq, Asar bin Amru Al-Bajali, Ismail bin Yahya Al-Sirafi, Al-Harits bin Nahban, Al-Hasan bin Ziyad, Hafsh binn Abdurrahman al-Qadhi, Hamad bin Abu Hanifah, Hamzah temannya penjual minyak wangi, Dawud Ath-Thai, Sulaiman bin Amr An-Nakhai, Su’aib bin Ishaq, Abdullah ibnul Mubarok, Abdul Aziz bin Khalid at-Turmudzi, Abdul karim bin Muhammad al-Jurjani, Abdullah bin Zubair al-Qurasy, Ali bin Zhibyan al-Qodhi, Ali bin Ashim, Isa bin Yunus, Abu Nu’aim, Al-Fadhl bin Musa, Muhammad bin Bisyr, Muhammad bin Hasan Assaibani, Muhammad bin Abdullah al-Anshari, Muhammad bin Qoshim al-Asadi, Nu’man bin Abdus Salam al-Asbahani, Waki’ bin Al-Jarah, Yahya bin Ayub Al-Mishri, Yazid bin Harun, Abu Syihab Al-Hanath Assamaqondi, Al-Qodhi Abu Yusuf, dan lain-lain.
Penilaian para ulama terhadap Abu Hanifah

Berikut ini beberapa penilaian para ulama tentang Abu Hanifah, diantaranya:
1. Yahya bin Ma’in berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh, dia tidak membicarakan hadits kecuali yang dia hafal dan tidak membicarakan apa-apa yang tidak hafal”. Dan dalam waktu yang lain beliau berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh di dalam hadits”. Dan dia juga berkata, “Abu hanifah laa ba’sa bih, dia tidak berdusta, orang yang jujur, tidak tertuduh dengan berdusta, …”.
2. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Kalaulah Allah subhanahu wa ta’ala tidak menolong saya melalui Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri maka saya hanya akan seperti orang biasa”. Dan beliau juga berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih”. Dan beliau juga pernah berkata, “Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah, orang yang paling jauh dari perbuatan ghibah adalah Abu Hanifah, saya tidak pernah mendengar beliau berbuat ghibah meskipun kepada musuhnya’ kemudian beliau menimpali ‘Demi Allah, dia adalah orang yang paling berakal, dia tidak menghilangkan kebaikannya dengan perbuatan ghibah’.” Beliau juga berkata, “Aku dating ke kota Kufah, aku bertanya siapakah orang yang paling wara’ di kota Kufah? Maka mereka penduduk Kufah menjawab Abu Hanifah”. Beliau juga berkata, “Apabila atsar telah diketahui, dan masih membutuhkan pendapat, kemudian imam Malik berpendapat, Sufyan berpendapat dan Abu Hanifah berpendapat maka yang paling bagus pendapatnya adalah Abu Hanifah … dan dia orang yang paling faqih dari ketiganya”.
3. Al-Qodhi Abu Yusuf berkata, “Abu Hanifah berkata, tidak selayaknya bagi seseorang berbicara tentang hadits kecuali apa-apa yang dia hafal sebagaimana dia mendengarnya”. Beliau juga berkata, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih tahu tentang tafsir hadits dan tempat-tempat pengambilan fiqih hadits dari Abu Hanifah”.
4. Imam Syafii berkata, “Barangsiapa ingin mutabahir (memiliki ilmu seluas lautan) dalam masalah fiqih hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah”
5. Fudhail bin Iyadh berkata, “Abu Hanifah adalah seorang yang faqih, terkenal dengan wara’-nya, termasuk salah seorang hartawan, sabar dalam belajar dan mengajarkan ilmu, sedikit bicara, menunjukkan kebenaran dengan cara yang baik, menghindari dari harta penguasa”. Qois bin Rabi’ juga mengatakan hal serupa dengan perkataan Fudhail bin Iyadh.
6. Yahya bin Sa’id al-Qothan berkata, “Kami tidak mendustakan Allah swt, tidaklah kami mendengar pendapat yang lebih baik dari pendapat Abu Hanifah, dan sungguh banyak mengambil pendapatnya”.
7. Hafsh bin Ghiyats berkata, “Pendapat Abu Hanifah di dalam masalah fiqih lebih mendalam dari pada syair, dan tidaklah mencelanya melainkan dia itu orang yang jahil tentangnya”.
8. Al-Khuroibi berkata, “Tidaklah orang itu mensela Abu Hanifah melainkan dia itu orang yang pendengki atau orang yang jahil”.
9. Sufyan bin Uyainah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah karena dia adalah termasuk orang yang menjaga shalatnya (banyak melakukan shalat)”.

Beberapa penilaian negatif yang ditujukan kepada Abu Hanifah
Abu Hanifah selain dia mendapatkan penilaian yang baik dan pujian dari beberapa ulama, juga mendapatkan penilaian negatif dan celaan yang ditujukan kepada beliau, diantaranya :
1. Imam Muslim bin Hajaj berkata, “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit shahibur ro’yi mudhtharib dalam hadits, tidak banyak hadits shahihnya”.
2. Abdul Karim bin Muhammad bin Syu’aib An-Nasai berkata, “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit tidak kuat hafalan haditsnya”.
3. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Abu Hanifah orang yang miskin di dalam hadits”.
4. Sebagian ahlul ilmi memberikan tuduhan bahwa Abu Hanifah adalah murji’ah dalam memahi masalah iman. Yaitu penyataan bahwa iman itu keyakinan yang adal dalam hati dan diucapkan dengan lesan, dan mengeluarkan amal dari hakikat iman.
Dan telah dinukil dari Abu Hanifah bahwasanya amal-amal itu tidak termasuk dari hakekat imam, akan tetapi dia termasuk dari sya’air iman, dan yang berpendapat seperti ini adalah Jumhur Asy’ariyyah, Abu Manshur Al-Maturidi … dan menyelisihi pendapat ini adalah Ahlu Hadits … dan telah dinukil pula dari Abu Hanifah bahwa iman itu adalah pembenaran di dalam hati dan penetapan dengan lesan tidak bertambah dan tidak berkurang. Dan yang dimaksudkan dengan “tidak bertambah dan berkurang” adalah jumlah dan ukurannya itu tidak bertingkat-tingkat, dak hal ini tidak menafikan adanya iman itu bertingkat-tingkat dari segi kaifiyyah, seperti ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang jelas dan yang samar, dan yang semisalnya …
Dan dinukil pula oleh para sahabatnya, mereka menyebutkan bahwa Abu Hanifah berkata, ‘Orang yang terjerumus dalam dosa besar maka urusannya diserahkan kepada Allah’, sebagaimana yang termaktub dalam kitab “Fiqhul Akbar” karya Abu Hanifah, “Kami tidak mengatakan bahwa orang yang beriman itu tidak membahayakan dosa-dosanya terhadap keimanannya, dan kami juga tidak mengatakan pelaku dosa besar itu masuk neraka dan kekal di neraka meskipun dia itu orang yang fasiq, … akan tetapi kami mengatakan bahwa barangsiapa beramal kebaikan dengan memenuhi syarat-syaratnya dan tidak melakukan hal-hal yang merusaknya, tidak membatalakannya dengan kekufuran dan murtad sampai dia meninggal maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya, bahklan -insya Allah- akan menerimanya; dan orang yang berbuat kemaksiatan selain syirik dan kekufuran meskipun dia belum bertaubat sampai dia meninggal dalam keadaan beriman, maka di berasa dibawah kehendak Allah, kalau Dia menghendaki maka akan mengadzabnya dan kalau tidak maka akan mengampuninya.”
5. Sebagian ahlul ilmi yang lainnya memberikan tuduhan kepada Abu Hanifah, bahwa beliau berpendapat Al-Qur’an itu makhluq.
Padahahal telah dinukil dari beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah dan pengucapan kita dengan Al-Qur’an adalah makhluq. Dan ini merupakan pendapat ahlul haq …,coba lihatlah ke kitab beliau Fiqhul Akbar dan Aqidah Thahawiyah …, dan penisbatan pendapat Al-Qur’an itu dalah makhluq kepada Abu Hanifah merupakan kedustaan”.
Dan di sana masih banyak lagi bentuk-bentuk penilaian negatif dan celaan yang diberikan kepada beliau, hal ini bisa dibaca dalam kitab Tarikh Baghdad juz 13 dan juga kitab al-Jarh wa at-Ta’dil Juz 8 hal 450.
Dan kalian akan mengetahui riwayat-riwayat yang banyak tentang cacian yang ditujukan kepada Abiu Hanifah -dalam Tarikh Baghdad- dan sungguh kami telah meneliti semua riwayat-riwayat tersebut, ternyata riwayat-riwayat tersebut lemah dalam sanadnya dan mudhtharib dalam maknanya. Tidak diragukan lagi bahwa merupakan cela, aib untuk ber-ashabiyyah madzhabiyyah, … dan betapa banyak daripara imamyang agung, alim yang cerdas mereka bersikap inshaf (pertengahan ) secara haqiqi. Dan apabila kalian menghendaki untuk mengetahui kedudukan riwayat-riwayat yang berkenaan dengan celaan terhadap Abu Hanifah maka bacalah kitab al-Intiqo’ karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, Jami’ul Masanid karya al-Khawaruzumi dan Tadzkiratul Hufazh karya Imam Adz-Dzahabi. Ibnu Abdil Barr berkata, “Banyak dari Ahlul Hadits – yakni yang menukil tentang Abu Hanifah dari al-Khatib (Tarikh baghdad) – melampaui batas dalam mencela Abu Hanifah, maka hal seperti itu sungguh dia menolak banyak pengkhabaran tentang Abu Hanifah dari orang-orang yang adil”
Beberapa nasehat Imam Abu Hanifah
Beliau adalah termasuk imam yang pertama-tama berpendapat wajibnya mengikuti Sunnah dan meninggalkan pendapat-pendapatnya yang menyelisihi sunnah. dan sungguh telah diriwayatkan dari Abu Hanifah oleh para sahabatnya pendapat-pendapat yang jitu dan dengan ibarat yang berbeda-beda, yang semuanya itu menunjukkan pada sesuatu yang satu, yaitu wajibnya mengambil hadits dan meninggalkan taqlid terhadap pendapat para imam yang menyelisihi hadits. Diantara nasehat beliau adalah:
a. Apabila telah shahih sebuah hadits maka hadits tersebut menjadi madzhabku
Berkata Syaikh Nashirudin Al-Albani, “Ini merupakan kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan para imam. Dan para imam telah memberi isyarat bahwa mereka tidak mampu untuk menguasai, meliput sunnah/hadits secara keseluruhan”. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Syafii, “maka terkadang diantara para imam ada yang menyelisihi sunnah yang belum atau tidak sampai kepada mereka, maka mereka memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh dengan sunnah dan menjadikan sunah tersebut termasuk madzhab mereka semuanya”.
b. Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil/memakai pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari dalil mana kami mengambil pendapat tersebut. dalam riwayat lain, haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku, dia berfatwa dengan pendapatku. Dan dalam riawyat lain, sesungguhnya kami adalah manusia biasa, kami berpendapat pada hari ini, dan kami ruju’ (membatalkan) pendapat tersebut pada pagi harinya. Dan dalam riwayat lain, Celaka engkau wahai Ya’qub (Abu Yusuf), janganlah engakau catat semua apa-apa yang kamu dengar dariku, maka sesungguhnya aku berpendapat pada hari ini denga suatu pendapat dan aku tinggalkan pendapat itu besok, besok aku berpendapat dengan suatu pendapat dan aku tinggalkan pendapat tersebut hari berikutnya.

Syaikh Al-Albani berkata, “Maka apabila demikian perkataan para imam terhadap orang yang tidak mengetahui dalil mereka. maka ketahuilah! Apakah perkataan mereka terhadap orang yang mengetahui dalil yang menyelisihi pendapat mereka, kemudian dia berfatwa dengan pendapat yang menyelisishi dalil tersebut? maka camkanlah kalimat ini! Dan perkataan ini saja cukup untuk memusnahkan taqlid buta, untuk itulah sebaigan orang dari para masyayikh yang diikuti mengingkari penisbahan kepada Abu Hanifah tatkala mereka mengingkari fatwanya dengan berkata “Abu Hanifah tidak tahu dalil”!.

Berkata Asy-sya’roni dalam kitabnya Al-Mizan 1/62 yang ringkasnya sebagai berikut, “Keyakinan kami dan keyakinan setiap orang yang pertengahan (tidak memihak) terhadap Abu Hanifah, bahwa seandainya dia hidup sampai dengan dituliskannya ilmu Syariat, setelah para penghafal hadits mengumpulkan hadits-haditsnya dari seluruh pelosok penjuru dunia maka Abu Hanifah akan mengambil hadits-hadits tersebut dan meninggalkan semua pendapatnya dengan cara qiyas, itupun hanya sedikit dalam madzhabnya sebagaimana hal itu juga sedikit pada madzhab-madzhab lainnya dengan penisbahan kepadanya. Akan tetapi dalil-dalil syari terpisah-pesah pada zamannya dan juga pada zaman tabi’in dan atbaut tabiin masih terpencar-pencar disana-sini. Maka banyak terjadi qiyas pada madzhabnya secara darurat kalaudibanding dengan para ulama lainnya, karena tidak ada nash dalam permasalahan-permasalahan yang diqiyaskan tersebut. berbeda dengan para imam yang lainnya, …”. Kemudia syaikh Al-Albani mengomentari pernyataan tersebut dengan perkataannya, “Maka apabila demikian halnya, hal itu merupakan udzur bagi Abu Hanifah tatkala dia menyelisihi hadits-hadits yang shahih tanpa dia sengaja – dan ini merupaka udzur yang diterima, karena Allah tidak membebani manusia yang tidak dimampuinya -, maka tidak boleh mencela padanya sebagaimana yang dilakukan sebagian orang jahil, bahkan wajib beradab dengannya karena dia merupakan salah satu imam dari imam-imam kaum muslimin yang dengan mereka terjaga agama ini. …”.
c. Apabila saya mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi kitab Allah dan hadits Rasulullah yang shahih, maka tinggalkan perkataanku.
Wafatnya
Pada zaman kerajaan Bani Abbasiyah tepatnya pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur yaitu raja yang ke-2, Abu Hanifah dipanggil kehadapannya untuk diminta menjadi qodhi (hakim), akan tetapi beliau menolak permintaan raja tersebut – karena Abu Hanifah hendak menjahui harta dan kedudukan dari sulthan (raja) – maka dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara dan wafat dalam penjara.
Dan beliau wafat pada bulan Rajab pada tahun 150 H dengan usia 70 tahun, dan dia dishalatkan banyak orang bahkan ada yang meriwayatkan dishalatkan sampai 6 kloter.
(diambil dari majalah Fatawa)

Daftar Pustaka:
1. Tarikhul Baghdad karya Abu Bakar Ahmad Al-Khatib Al-Baghdadi cetakan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
2. Siyarul A’lamin Nubala’ karya Al-Imam Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi cetakan ke - 7 terbitan Dar ar-Risalah Beirut
3. Tadzkiratul Hufazh karya Al-Imam Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
4. Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir cetakan Maktabah Darul Baz Beirut
5. Kitabul Jarhi wat Ta’dil karya Abu Mumahhan Abdurrahman bin Abi Hatim bin Muhammad Ar-Razi terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
6. Shifatu Shalatin Nabi karya Syaikh Nashirudin Al-Albani cetakan Maktabah Al-Ma’arif Riyadh

Saturday, November 6, 2010

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli pahlawan Mazhab Syafie

Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH


AKHIR-akhir ini, baik dalam percakapan mahupun dalam siaran akhbar, banyak dibicarakan tentang Wahabi. Sebenarnya kadang-kadang orang yang menggunakan istilah tersebut ataupun mereka yang menulis mengenainya sendiri tidak mengerti apa yang mereka perkatakan. Ketika pertama kali perkara 'khilafiyah' melanda dunia Melayu, terutama di Jawa dan Sumatera pada 1912 dan hangat dibicarakan tahun 1930-an, istilah Wahabi belum begitu popular. Yang popular ialah istilah 'Kaum Muda'. Kaum Muda sangat kontroversi dengan 'Kaum Tua'.

Yang dimaksudkan dengan istilah 'Kaum Muda' ialah golongan yang terpengaruh dengan pemikiran Syeikh Muhammad Abduh dan muridnya, Sayid Rasyid Ridha, kedua-duanya pemikir Islam terkenal di Mesir. Istilah 'Kaum Muda' disebut juga dengan istilah 'Tajdid' (pembaharuan) atau juga istilah 'Reformis'. Dalam konteks ketiga-tiga istilah tersebutlah, muncul apa yang akhir-akhir ini diistilahkan orang dengan Wahabi atau Wahabiyah.

Istilah tersebut digunakan oleh orang yang tidak menyukai mereka, namun golongan yang dipanggil Wahabi itu lebih suka kepada istilah 'Salafi' atau 'Salaf'. Istilah 'Salafi' banyak dibicarakan di Indonesia, dan belum begitu dikenali di Malaysia dan Patani.

Istilah 'Kaum Tua' adalah golongan ulama yang tetap mengikut salah satu mazhab yang empat dalam fiqh. Dalam konteks dunia Melayu ialah Mazhab Syafie. Dalam akidah pula ialah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang berpedomankan dua orang imam iaitu Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Dalam tasawuf Kaum Tua berimamkan Syeikh Junaid al-Baghdadi.

Tokoh yang diriwayatkan dalam rencana kali ini adalah seorang ulama besar Indonesia yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Beliau adalah golongan Kaum Tua yang sangat gigih mempertahankan Mazhab Syafie.

Nama beliau ialah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minankabawi, lahir di Candung, Sumatera Barat, 1287 H/1871 M, wafat pada hari Sabtu, 29 Jumadilawal 1390 H/1 Ogos 1970 M.

Pendidikan

Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minankabawi adalah di Mekah. Ulama Malaysia yang seangkatan dengan beliau dan sama-sama belajar di Mekah di antaranya ialah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M) dan ramai lagi. Yang berasal dari Indonesia pula di antaranya ialah Kiyai Haji Hasyim Asy'ari, Jawa Timur (1287 H/1871 M - 1366 H/1947 M), Syeikh Hasan Maksum, Sumatera Utara (wafat 1355 H/1936 M), Syeikh Khathib Ali al-Minankabawi, Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minankabawi (bersara menjadi Mufti Kerajaan Perak tahun 1955 dan wafat di Pariaman pada 1957), Syeikh Muhammad Jamil Jaho al-Minankabawi, Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minankabawi dan ramai lagi.

Ketika tinggal di Mekah, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minankabawi selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minankabawi, beliau juga mendalami ilmu-ilmu daripada ulama Kelantan dan Patani. Antaranya, Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani.

Perjuangan

Jalan cerita Syeikh Sulaiman ar-Rasuli kembali ke Minangkabau sama dengan kisah kepulangan sahabatnya Tok Kenali ke Kelantan, iaitu setelah kewafatan Syeikh Ahmad al-Fathani (11 Zulhijjah 1325 H/14 Januari 1908 M). Tok Kenali sesampainya di Kelantan langsung memulakan penyebaran ilmunya melalui sistem pendidikan pondok yang dinamakan 'Jam'iyah al-'Ashriyah' (nama ini adalah maklumat terkini yang saya peroleh melalui telefon daripada Zaidi Hasan di Kota Bharu, Kelantan).

Demikian juga dengan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli. Sesampainya beliau di Bukit Tinggi, Sumatera, beliau mula mengajar menurut sistem pondok. Walau bagaimanapun, pengajian sistem pondok secara halaqah iaitu bersila di lantai dalam pendidikan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli berubah menjadi sistem persekolahan duduk di bangku pada 1928, namun kitab-kitab yang diajar tidak pernah diubah.

Pada tahun 1928 itu juga, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli bersama sahabat-sahabatnya Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho mengasaskan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Kemudian persatuan tersebut menjadi sebuah parti politik yang mempunyai singkatan nama PERTI. Baik dalam sistem pendidikan mahupun perjuangan dalam parti politik, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan kawan-kawannya secara tegas dan berani mempertahankan dan berpegang dengan satu mazhab, iaitu Mazhab Syafie.

Ini bererti PERTI agak berbeza dengan Nahdhatul Ulama (NU) yang diasaskan oleh Kiyai Haji Hasyim Asy'ari dan kawan-kawan di Jawa Timur. Dasar Nahdhatul Ulama (NU) adalah berpegang pada salah satu mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafie dan Hanbali). Ia tidak menegaskan mesti berpegang pada Mazhab Syafie seperti PERTI.

Kiyai Haji Sirajuddin Abbas dalam bukunya, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafie, menulis, "Beliau seorang ulama besar yang tidak menerima faham Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha." (Lihat cetakan kedua, Aman Press, 1985, hlm. 298.) Di antara ulama Minangkabau yang gigih menyokong pemikiran kedua-dua ulama Mesir itu ialah Dr. Haji Abdul Karim Amrullah dan Syeikh Thahir Jalaluddin al-Azhari. Ini bermakna, kedua-dua ulama yang sama-sama berasal dari Minangkabau dan semuanya seperguruan itu adalah musuh polemik Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan ulama-ulama dalam PERTI lainnya.

Prof. Dr. Hamka dalam bukunya yang berjudul Ayahku menulis, "Cuma beliau (maksudnya Dr. Haji Abdul Karim Amrullah) berselisih dalam satu perkara, iaitu Syeikh Sulaiman ar-Rasuli mempertahankan Thariqat Naqsyabandiyah, dan salah seorang di antara Syeikhnya (mungkin maksudnya Syeikh Saad Mungka, musuh polemik Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau, pen:), sedangkan pihak Dr. Haji Abdul Karim Amrullah dan Syeikh Jambek tidak suka kepada tarekat itu.”

Demikian juga dalam hal puasa dengan hisab. Syeikh Sulaiman ar-Rasuli lebih menyetujui rukyah. Pernah beliau berkata, "Bagaimana tuan-tuan Kaum Muda! Kata tuan hendak kembali kepada sunah, tetapi dalam hal puasa yang nyata-nyata diperintahkan rukyah, tuan-tuan kembali mengemukakan ijtihad." (Lihat cetakan ketiga, Djajamurni, Jakarta, 1963, hlm. 247.)

Pertikaian pendapat yang disebut oleh Buya Hamka antara beliau (Dr. Haji Abdul Karim Amrullah) dengan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli berdasarkan petikan tulisan di atas tidak banyak. Sebenarnya pertikaian pendapat antara 'Kaum Tua' dengan 'Kaum Muda' pada peringkat awal sangat banyak. Sekurang-kurangnya ada 19 perkara. Contohnya perkara 'muqaranah niat sembahyang' dan 'menjiharkan lafaz niat', Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan semua ulama Kaum Tua mewajibkan 'muqaranah niat sembahyang' dan 'menjiharkan lafaz niat' adalah sunat.

Berdasarkan sepakat semua ulama, 'zakat fitrah' wajib dibayar dengan makanan yang mengenyangkan. Tidak sah dibayar dengan nilai berupa wang. Perkara ini tetap dipertahankan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, semua ulama dalam PERTI, di samping ulama dalam Nahdhatul Ulama (NU), dan semua ulama di seluruh dunia Islam yang masih tetap berpegang teguh kepada Mazhab Syafie. Perdebatan mengenai zakat gaji atau zakat pendapatan tidak pernah muncul pada zaman Syeikh Sulaiman ar-Rasuli kerana ia baru muncul pada awal 1990-an, bertitik mula daripada pendapat Syeikh Yusuf al- Qardhawi.

Mengenai sembahyang tarawih dalam bulan Ramadan, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan Kaum Tua mempertahankan 20 rakaat atau 23 rakaat dengan witir. Kaum Muda mengerjakan tarawih 8 rakaat atau 11 dengan witir. Sungguhpun ramai orang melemparkan segala yang dipertikaikan adalah berasal daripada golongan yang mereka namakan Wahabi, ternyata di Masjid al-Haram, Mekah, sembahyang tarawih dan witir juga dilakukan 23 rakaat, bukan 11 rakaat tarawih dengan witir.

Bahkan Syeikh Abdul Aziz Abdullah Baz (ulama kerajaan Arab Saudi) dalam menjawab perkara tersebut berfatwa bahawa sembahyang tarawih dan witir 23 rakaat adalah sepakat para sahabat Nabi Muhammd s.a.w.. Terlalu banyak perkara khilafiyah untuk dibicarakan, rasanya contoh ini sudah cukup memadai.

Kenyataan Buya Hamka yang menyebut bahawa "Syeikh Sulaiman ar-Rasuli mempertahankan Thariqat Naqsyabandiyah, dan salah seorang di antara Syeikhnya" memang benar, tetapi dalam satu riwayat lain, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli membantah Thariqat Naqsyabandiyah yang diperkenalkan oleh Dr. Syeikh Jalaluddin. Bantahan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli tersebut dituangkan dalam Tabligh al-Amanat fi Izalah al-Munkarat wa asy-Syubuhat, bertarikh 19 Jumadilakhir 1373 H pada 23 Januari 1954 M. Buku ini dicetak oleh Mathba'ah Nusantara, Bukit Tinggi pada 1373 H/1954 M.

Pengaruh

Pada tahun 1950-an Indonesia pernah mengadakan pilihan raya membentuk sebuah badan atau lembaga yang dinamakan 'Konstituante'. Tujuan Konstituante ialah untuk menentukan Indonesia sama ada membentuk negara Islam ataupun negara nasional. Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, salah seorang anggota Konstituante dari PERTI, telah dilantik mengetuai sidang pertama badan itu. Konstituante dibubarkan oleh Presiden Soekarno dengan Dekri Presiden 5 Julai 1959. Jadi Indonesia sebagai negara nasional bukan ditentukan oleh Sidang Konstituante tetapi ditentukan oleh Presiden Soekarno.

Beberapa orang ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah memang seorang ulama besar yang berpengaruh terhadap kawan dan lawan. Sejak zaman pemerintah Belanda, pembesar-pembesar Belanda datang menziarahi beliau. Demikian juga pemimpin-pemimpin setelah kemerdekaan Indonesia. Soekarno sejak belum menjadi Presiden Indonesia hingga setelah berkuasa memang sering berkunjung ke rumah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli. Pada hari pengkebumian beliau, dianggarkan 30,000 orang hadir termasuk ramai pemimpin dari Jakarta, bahkan juga dari Malaysia.

Pandangan

Paparan mengenai khilafiyah yang saya sentuh dalam artikel ini tiada bermaksud untuk berpihak kepada sesuatu pihak. Kita yang hidup pada zaman sekarang sewajarnya cukup matang untuk membuat penilaian. Pertikaian pendapat (khilafiyah) jika ditinjau dari satu segi, adalah merugikan umat Islam kerana ia boleh mengakibatkan permusuhan sesama Islam yang dilarang oleh agama Islam itu sendiri. Ditinjau dari segi yang lain, ia mungkin menguntungkan kerana dengan adanya khilafiyah bererti mencambuk mereka yang rajin membuat penelitian.

Orang-orang yang jujur dalam penilaian ilmu, yang berdepan dengan khilafiyah, mestilah rajin membaca banyak kitab dan buku berbagai-bagai ilmu.

Orang yang mempunyai ilmu yang pelbagai dan banyak pengalaman akan adil dalam penilaian, tetapi orang yang mempunyai ilmu sejenis dan kurang pengalaman akan sukar untuk berlaku adil dalam segala persoalan.

Syeikh Muhammad Nur Al-Fathani pembesar dua pemerintah Mekah

Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH


RIWAYAT Syeikh Muhammad Nur al-Fathani agak berbeza dengan ulama-ulama lainnya kerana beliau satu-satunya ulama di Mekah yang dapat menjadi orang besar dalam dua pemerintahan. Beliau menjadi orang besar pada zaman pemerintahan Syarif Husein. Apabila pemerintahan bertukar kepada Ibnu Sa’ud, yang terkenal dengan era pemerintahan Wahabi, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani masih tetap dengan kedudukannya.

Ketika bertukar pemerintahan, ramai ulama tidak dapat hidup aman di Mekah. Mereka terpaksa berhijrah ke tempat-tempat lain. Antara ulama yang berhijrah ialah Saiyid Abdullah az-Zawawi, Mufti Mekah, yang berhijrah ke Riau, kemudian terus ke Pontianak, lalu menjadi Mufti di kerajaan Pontianak. Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani berhijrah ke Jambi, kemudian menjadi Syeikh al-Islam di kerajaan Selangor.

Dalam beberapa siri lalu, kita telah mengetahui bahawa ada ulama yang terlalu keras dalam mempertahankan pegangan Kaum Tua dan ada pula ulama terlalu aktif dan agresif memperjuangkan Kaum Muda.

Berbeza dengan Syeikh Muhammad Nur al-Fathani, beliau berusaha menyeimbangkan antara kedua-dua golongan itu. Syeikh Muhammad Nur al-Fathani mendapat pendidikan mendalam dalam ilmu tradisi Kaum Tua dan mendapat pendidikan mendalam pula daripada pencetus ‘Kaum Muda’ (Tajdid) itu sendiri. Oleh sebab hingga kini kita belum mengetahui ada seseorang ulama yang berpendirian demikian, dapatlah kita anggap Syeikh Muhammad Nur al-Fathanilah satu-satunya ulama besar yang berani dengan caranya yang tersendiri.

Satu keanehan pula baik Kaum Tua ataupun Kaum Muda tidak terdapat kecaman terhadap Syeikh Muhammad Nur al-Fathani. Bererti baik ditinjau dari segi perbahasan dan penyampaian ilmu mahupun dalam pergaulan masyarakat luas, bangsa Melayu, Arab dan antarabangsa di Mekah ketika itu, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani dapat diterima oleh semua pihak. Beliau dikasihi oleh golongan awam dan suaranya dipakai oleh golongan tertinggi penguasa Mekah baik pada zaman pemerintahan Syarif Husein mahupun pada zaman pemerintahan Wahabi.

Penyusun

Nama lengkapnya ialah Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Muhammad Shaghir bin Ismail bin Ahmad al-Fathani. Ayah beliau adalah seorang ulama besar, iaitu Syeikh Muhammad Shaghir al-Fathani yang dinamakan juga Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani, penyusun kitab Mathia’ al-Badrain yang terkenal.

Syeikh Muhammad Nur al-Fathani lahir di Mekah pada tahun 1290 H/1873 M, bererti sama dengan kelahiran Tok Bermin, ulama yang dimuat dalam Halaman Agama Utusan Malaysia pada Isnin lalu. Syeikh Muhammad Nur al-Fathani juga wafat di Mekah pada tahun 1363 H/1944 M.

Syeikh Muhammad Nur al-Fathani adalah keturunan ulama penyebar Islam yang datang ke Patani. Sehingga ke zaman beliau sebahagian besar ahli keluarganya adalah ulama besar belaka. Beliau mendapat pendidikan daripada ayahnya sendiri Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani, Syeikh Ahmad al-Fathani, dan lain-lain. Hubungannya dengan Syeikh Ahmad al-Fathani sangat dekat kerana isteri Syeikh Ahmad al-Fathani bernama Hajah Wan Saudah al-Fathani adalah saudara sepupu pada Syeikh Muhammad Nur al-Fathani. Ibu Hajah Wan Saudah al-Fathani bernama Hajah Wan Maryam al-Fathani (wafat di Skudai, Johor) adalah adik pada Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani. Syeikh Muhammad Nur al-Fathani pula kahwin dengan saudara sepupu Syeikh Ahmad al-Fathani bernama Hajah Wan Shafiyah binti Syeikh Wan ‘Ali Kutan al-Kalantani. Ibu Hajah Wan Shafiyah bernama Hajah Wan Aisyah adalah adik-beradik dengan Wan Cik, ibu pada Syeikh Ahmad al-Fathani.

Daripada maklumat di atas dapat disimpulkan bahawa Syeikh Muhammad Nur al-Fathani mendapat pendidikan di kalangan keluarga yang menjadi ulama besar sekurang-kurangnya dengan tiga orang, iaitu ayahnya sendiri, Syeikh Wan ‘Ali Kutan dan Syeikh Ahmad al-Fathani. Sebelum Syeikh Muhammad Nur dihantar belajar ke Universiti Al-Azhar, Mesir beliau telah menguasai pelbagai bidang ilmu dan memang sudah menjadi ulama.

Ketika belajar di Mesir, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani belajar daripada ramai ulama dalam berbagai-bagai bidang ilmu. Antara gurunya ialah Syeikh Bakhit, ulama dalam Mazhab Hanafi. Sewaktu di Universiti Al-Azhar, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani secara langsung belajar kepada Syeikh Muhammad Abduh, iaitu tokoh yang dianggap pelopor pertama kebangkitan ‘Tajdid’ atau ‘Reformis’ atau disebut juga dengan nama Kaum Muda. Beliau juga pernah belajar dengan Saiyid Rasyid Ridha, iaitu murid dan orang kanan Syeikh Muhammad Abduh.

Antara sahabatnya ialah Syeikh Tahir Jalaluddin al-Minankabawi yang kedua-duanya adalah ahli falak. Walau bagaimanapun, karakter kedua-dua ulama tersebut adalah tidak sama. Syeikh Muhammad Nur al-Fathani daripada satu segi tetap mengikut Mazhab Syafie dan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan selalu berlapang dada dalam menghadapi pelbagai isu yang ditimbulkan masyarakat. Apabila Kaum Tua datang menyalahkan Kaum Muda, beliau sambut dengan tersenyum, demikian sebaliknya Kaum Muda datang membidaah dan mengkhurafatkan Kaum Tua juga beliau sambut dengan bermanis muka. Cara ini nampaknya ada persamaan dengan yang dilakukan oleh Tok Kenali Kelantan.

Dengan cara demikian akhirnya kedua-dua pihak (Kaum Tua dan Kaum Muda) dengan sendirinya berasa segan kepada Syeikh Muhammad Nur al-Fathani. Dari sini dapat kita pelajari bahawa memang ada perbezaan antara Syeikh Muhammad Nur al-Fathani dengan Syeikh Tahir Jalaluddin al-Minankabawi. Syeikh Tahir Jalaluddin al-Minankabawi menjadi pelopor Kaum Muda yang berhaluan keras sehingga beliau banyak dikecam dan dipertikaikan oleh golongan yang tidak sependapat dengannya.

Aktiviti

Sebagaimana ayahnya menjadi orang besar Islam di Mekah pada zamannya, demikianlah akhirnya dapat dipusakai oleh anak beliau, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani yang diriwayatkan ini. Bahkan lebih jauh daripada itu, kebesaran mereka adalah dipusakai daripada Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, datuk saudara dan moyang saudara kedua-duanya. Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani, ayah beliau, adalah satu-satunya orang Melayu yang menjadi ‘Hakim Syarie Mekah’ pada zamannya, bahkan beliau adalah orang Melayu yang pertama dalam jabatan tinggi yang sangat penting itu.

Syeikh Muhammad Nur al-Fathani pula adalah seorang ‘Kadi Mahkamah al-Kubra Mekah’ dan beliau pernah menjadi ketua dalam jabatan itu. Selain itu Syeikh Muhammad Nur al-Fathani pernah menjadi ‘Ketua Syeikh Haji Al-Jawi Mekah’. Jawatan ini kembali ke tangan beliau kerana ‘Syeikh Haji’ adalah dicetuskan oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan sekali gus beliaulah sebagai ketuanya pada zaman pemerintahan Turki Uthmaniyah.

Di tengah-tengah kesibukan sebagai penguasa tertinggi Islam di Mekah pada zamannya, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani juga menyempatkan diri mengajar baik di rumah mahupun di Masjid al-Haram, Mekah. Pada zamannya hampir-hampir tidak ada ulama yang datang dari dunia Melayu ke Mekah yang tidak kenal kepada Syeikh Muhammad Nur al-Fathani. Banyak perkara tentang Islam yang datang dari dunia Melayu dirujuk kepada beliau terutama sekali dalam permasalahan ilmu falak.

Syeikh Muhammad Nur al-Fathani adalah seorang ulama yang paling mudah dijumpai dan terlalu lekas mesra dengan orang yang berjumpa dengannya. Salah satu kebaikannya ialah orang yang meminta pertolongan daripadanya jika ada kemampuan padanya pasti beliau beri pertolongan.Jika beliau menyanggupi untuk memberi pertolongan, beliau akan mengurusnya sendiri hingga selesai walaupun beliau sendiri akan terkorban masa dan kewangannya sendiri. Beliau suka memberi pertolongan kepada orang bukanlah muncul dengan begitu saja, tetapi sekurang-kurangnya diwarisi daripada tiga orang, iaitu Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani dan Syeikh Ahmad al-Fathani.

Dalam satu kes, Syeikh Ahmad al-Fathani dan Syeikh Muhammad Nur al-Fathani pernah memberi pertolongan kepada orang lain secara serentak. Peristiwa yang dimaksudkan ialah kedua-duanya telah memberi banyak kemudahan kepada Haji Wan Muhammad (Mufti Perak) dan keluarganya sewaktu musim haji. Ketika itulah Syeikh Ahmad al-Fathani berwasiat kepada Syeikh Muhammad Nur al-Fathani supaya kelakuan yang terpuji itu diterap dan diajarkan kepada murid dan terutama kepada keturunannya.

Selain itu, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani juga menerbitkan karya-karya Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan karya-karya Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani.

Penulisan

Sebagai seorang ulama besar yang bijak dalam penilaian ilmu, satu perkara yang berbeza antara Syeikh Muhammad Nur al-Fathani dengan ulama lain ialah beliau telah menulis tentang ilmu tradisional, fiqh Mazhab Syafie (Kaum Tua) dan beliau juga menulis tentang ilmu yang dibangsakan kepada Wahabi (Kaum Muda). Mengenai sumbangan ini, belum ada orang lain melakukannya. Sehingga artikel ini saya tulis, ia hanya dilakukan oleh Syeikh Muhammad Nur al-Fathani. Saya tidak menaruh jahat sangka terhadap beliau, tetapi saya yakin bahawa Syeikh Muhammad Nur al-Fathani sangat bijak dalam siasah. Tentu ada sasaran-sasaran tertentu yang belum dapat saya bicarakan dalam artikel yang singkat ini.

Karya perjalanan Kaum Muda telah mendahului karyanya pada perjalanan Kaum Tua. Karya tentang akidah Wahabiyah (Kaum Muda) tersebut adalah merupakan terjemahan bukan asli daripada pemikiran beliau. Terjemahan tersebut pula adalah atas titah perintah Raja Abdul Aziz, Raja Arab Saudi ketika itu. Kitab tersebut diberi judul al-Hadiyah as-Saniyah fi al-‘Aqidah as-Salafiyah yang diselesaikan pada hari Isnin, 3 Zulhijjah 1344 H/13 Jun 1926.

Pada akhir kitab itu terdapat kenyataan beliau, “Dan lagi pula kerana masa yang dapat disalinkan padanya itu terlampau sempit, iaitu dalam masa tiga puluh tiga hari jua, kerana Yang Maha Mulia Raja Abdul Aziz itu berkehendak kepada menaburkan lima rencana ini di seluruh tanah Melayu dengan cepat dan segera.” Walau bagaimanapun, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani memberi peringatan, “Maka besarlah harapan hamba daripada pembaca-pembaca yang arif bijaksana, dan segala pendeta-pendeta yang ia sudi membacakan segala rencana yang lima ini bahawa diperbaiki akan segala kesalahan faham fatwa kalam hamba itu, dengan bahawa ia menimbangkan kesalahan itu dengan neraca fikirannya yang adil....”

Kalimat yang bercorak merendah diri itu kemungkinan memberitahu bahawa apa yang beliau tulis itu bukanlah pegangannya tetapi ia terpaksa diterjemahkan juga kerana memenuhi perintah raja yang sedang berkuasa. Lebih kurang tujuh tahun kemudian barulah beliau tulis pegangan ‘Kaum Tua’, pegangan ayahnya, Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani, pegangan moyang saudaranya Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dan lain-lain. Kitab tersebut ialah Kifayah al-Muhtadi bi Syarh Sullam al-Mubtadi. Penulisan dimulai di Mekah dan diselesaikan di Madinah al-Munawwarah pada hari Jumaat, 9 Rabiul Akhir 1351 H/11 Ogos 1932.

Tok Bermin al-Fathani cergas, cermat dan kemas

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah


TOK Kenali, Tok Kelaba dan Tok Bermin ialah tiga serangkai yang bersahabat dan seperguruan. Mereka adalah tiga gandingan nama ulama yang sering diperkatakan oleh masyarakat dalam lingkungan jalur mulai Kemboja, Bangkok, Patani, Semenanjung hinggalah di Sumatera pada zaman sebelum Perang Dunia Kedua. Ada faktor-faktor tertentu kenapa masyarakat selalu memuji mereka.

Faktor yang pertama ialah ketiga-tiganya mempunyai banyak ilmu yang pada zamannya memang pada kedudukan yang paling atas. Tentang Tok Kenali, orang sering mengisahkan tentang ‘karamah’ beliau. Sebenarnya jika hal itu diceritakan tak kurang juga kedua-dua sahabat beliau iaitu Tok Kelaba dan Tok Bermin.

Artikel Ulama Nusantara yang diperkenalkan dalam ruangan Agama Utusan Malaysia sudah berjumlah 97 judul termasuk artikel ini. Nampaknya kita tidak cukup ruang untuk menceritakan tentang ‘karamah’ kerana kisah yang bercorak zahir berdasarkan fakta terlalu padat.

Mungkin satu ketika nanti masyarakat menjadi bosan terhadap kisah zahir lalu ‘rohani’ mereka memberontak menuju kepada yang bercorak batin. Ketika itu kisah ‘karamah’ para Wali Allah atau ulama sangat perlu diperkenalkan. Kekosongan jiwa dan keruntuhan moral, terutama para remaja, akhir-akhir ini adalah akibat tidak diajar pengetahuan Islam secara bersepadu iaitu yang zahir (syariat) dan yang batin (tasawuf).

Ketiga-tiga ulama yang bersahabat tersebut telah berjasa dalam menyepadukan kedua-dua perkara tersebut sehingga sangat ramai murid mereka yang menjadi ulama.

Dalam artikel ini kita akan memperkatakan mengenai latar belakang Tok Bermin.

Nama lengkapnya ialah Al-Fadhil Al-‘Alim Haji Wan Muhammad bin Haji Wan Idris Bermin al-Fathani. Nama popularnya ialah Tok Bermin saja. Nama singkat itu lebih popular seperti juga nama Tok Kenali. Beliau lahir di Kampung Jambu, Patani pada tahun 1290H/1873M dan wafat di Bermin, malam Khamis 29 Zulkaedah 1376H/27 Jun 1957M.

Datuk nenek beliau adalah dalam lingkungan keluarga besar Syeikh Ahmad al-Fathani dan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Pendidikan

Sebelum melanjutkan pelajaran ke Mekah, Tok Bermin telah memperoleh banyak ilmu di Patani, sekurang-kurangnya di pondok terkenal iaitu Pondok Bendang Daya. Tok Bermin tidak sempat belajar dengan Tok Bendang Daya yang pertama (Syeikh Haji Wan Mustafa) tetapi sempat belajar dengan Tok Bendang Daya yang kedua (Syeikh ‘Abdul Qadir bin Mustafa, yang dicatat oleh Tok Kelaba sebagai Wali Allah di Patani pada zamannya).

Tok Bermin belajar juga di Pondok Tok Raja Haji, Jambu. Pondok ini diasaskan oleh Haji Wan Idris (Tok Raja Haji) iaitu murid dan menantu pada Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani. Kedua-dua guru Tok Bermin tersebut ada hubungan kekeluargaan yang erat. Sampailah pada zaman Tok Bermin yang menjadi ulama dan mengasaskan pondok dalam Patani, sekolah pondok didominasikan oleh keluarga mereka.

Ketika Tok Bermin belajar di Mekah, beliau belajar dengan ramai ulama, tetapi paling banyak pengetahuan diperoleh daripada Tok Cik Wan Daud bin Mustafa al-Fathani dan Syeikh Ahmad al-Fathani. Sama halnya dengan Tok Kenali, Tok Bermin adalah murid yang paling dikasihi oleh Syeikh Ahmad al-Fathani.

Tok Bermin adalah seorang yang tegas, cermat dan kemas. Banyak persamaan antara Tok Kenali dengan Tok Bermin, tetapi tiga perkataan yang tersebut lebih mencerminkan syariat sedangkan Tok Kenali mempraktikkan tasawuf dengan cara-cara yang tersendiri.

Tok Bermin sangat tegas menentang kemasukan Kaum Muda di Patani. Tok Kenali pula kadang-kadang hadir di tempat perdebatan Kaum Tua dan Kaum Muda di Kota Bharu tetapi beliau hanya diam saja.

Ketika membaca kitab atau mendengar murid membaca kitab bahasa Arab, Tok Bermin sangat cermat. Beliau sangat terikat dengan kaedah ilmu, terutama dalam ilmu nahu dan ilmu sharaf, sedikit pun tidak boleh tersilap atau salah.

Jika tersalah baca, Tok Bermin menegurnya secara spontan langsung memberi keterangan dengan ‘tegas’. Tok Kenali sungguhpun beliau seorang ahli dalam ilmu-ilmu itu tetapi beliau membaca dengan laju tidak seperti Tok Bermin membaca perkataan satu demi satu dengan jelas.

Tok Bermin selalu kemas dalam berpakaian sama ada ketika mengajar atau berjalan. Pakaian yang dipakainya sentiasa tegang kerana berkanji menurut tradisi zaman itu. Ini juga berbeza dengan Tok Kenali yang selalu berpakaian menurut caranya tersendiri, atau pakaian ‘ahli ash-shufi’ setiap zaman yang selalu tidak sama dengan kebanyakan orang.

Tok Bermin jika berjalan ke mana-mana menunggang kudanya sendiri dengan tongkat kebesaran seperti yang biasa dipakai para Nabi atau ulama ash-sufi sentiasa tersedia pada tangannya. Jika menunggang kuda Tok Bermin selalu berdisiplin, mencerminkan kewibawaan, kebesaran ulama dan kelihatan gagah. Dielakkannya menunggang seperti ada kelemahan atau menanggung sesuatu penyakit.

Bijak

Tok Kenali pula tidak pernah kita dengar menunggang kuda, tetapi beliau lebih suka berjalan kaki. Kesimpulan cerita ini bukan bererti ada kecelaan salah seorang daripada kedua-dua ulama yang tersebut, tetapi kedua-duanya bijak menyesuaikan keadaan atau tempat di mana mereka berada. Sekiranya Tok Bermin tinggal di Kota Bharu, Kelantan kemungkinan beliau juga bertindak seperti Tok Kenali.

Sebaliknya jika Tok Kenali tinggal di Bermin, Patani, kemungkinan beliau berkelakuan seperti Tok Bermin. Seluruh kelakuan, bergerak dan diam ulama pada peringkat kedua-duanya adalah bertujuan mendidik masyarakat bukan memuaskan kepentingan hawa nafsu peribadi semata-mata.

Dalam beberapa siri artikel tentang ulama Minangkabau yang lalu, kita telah mengetahui tentang pergolakan Kaum Tua dan Kaum Muda yang cukup hebat di negeri itu. Pergolakan itu akhirnya menyeberang ke Semenanjung, sampai ke Legor. Dari Legor turun ke Patani.

Pada tangan saya ada manuskrip atau tulisan tangan asli Tok Bermin yang meriwayatkan peristiwa kedatangan dua orang dari Minangkabau ke Legor menyebarkan ajaran Kaum Muda. Beberapa petikan saya perturunkan dalam artikel ini untuk dapat dikaji oleh pihak-pihak yang berkepentingan apakah ia daripada golongan Kaum Tua atau Kaum Muda.

Penulisan yang berdasarkan data dan fakta bukanlah bererti berpihak dengan sesuatu pihak. Untuk berpihak, itu adalah penilaian setiap individu itu sendiri, berdasarkan keintelektualan, pengalaman dan lainnya, tetapi perlulah ada kejujuran. Apa-apa yang tersembunyi dalam hati itulah yang perlu dikongsi dengan masyarakat.

Mukadimah tulisan Tok Bermin adalah sebagai berikut: “Dan adalah pada hari Sabtu, 26 Syawal, dan hari Isnin, 28 Syawal juga, pada tahun [atau] sanah 1347 [Hijrah], perhamba al-Haji Wan Muhammad Bermin, Jambu, periksa dan tanya akan ‘Abdullah dan Burhan orang Minangkabau. Yang keduanya setengah daripada Kaum Muda yang duduk berjalan menyesatkan orang-orang. Di dalam negeri Legor diperiksa di dalam Masjid al-Haji Mat, Kampung Baru. Dan di dalam Masjid al-Haji Mahmud di hadapan Imam Shiddiq, dan Penghulu Hamzah, dan al-Haji Mat sendiri dan al-Haji Mahmud, dan beberapa banyak daripada manusia.’’

Tarikh kejadian yang disebut oleh Tok Bermin iaitu 26 dan 28 Syawal 1347H itu adalah bersamaan dengan 6 dan 8 April 1929M.

Kenal

Memperhatikan tarikh ini bererti masih dalam lingkungan tahun-tahun yang sama dengan pertentangan Kaum Tua dan Kaum Muda di Sumatera. Tok Bermin lahir pada tahun 1290H/1873M, bererti dia lebih tua sekitar enam tahun daripada Syeikh Abdul Karim Amrullah, pelopor Kaum Muda di Minangkabau yang lahir pada 1296H/ 1879M.

Kemungkinan Abdullah dan Burhan yang berasal dari Minangkabau yang disebut oleh Tok Bermin pada petikan di atas adalah termasuk murid Syeikh Abdul Karim Amrullah. Tidak dapat dinafikan bahawa Tok Bermin dan Syeikh Abdul Karim Amrullah telah kenal sejak di Mekah kerana kedua-duanya adalah belajar dengan para ulama Mekah yang sama.

Selanjutnya Tok Bermin menulis: “Maka telah nyata bahawasanya ‘Abdullah dan

Burhan bukan daripada orang yang mengikut Imam Syafie. Bahkan bukan daripada mazhab yang empat. Dan keduanya bawa bercakap dengan kitab bagi Imam Syafie itu kerana menipu dan supaya menyangka orang yang mendengar akan kedua-duanya itu orang yang mengikut Syafie, padahal bukan Syafie.

“Dan jika tiada keduanya bawa bercakap-cakap dengan ‘Kitab Umm’ itu, nescaya tiada seorang pun mengikut akan keduanya daripada permulaan masuk Abdullah dan Burhan ke dalam negeri Legor.”

Tulis Tok Bermin selanjutnya: “Dan sebab keluar keduanya dari mazhab itu, kerana menafi oleh keduanya akan ijmak dan qiyas. Dan keduanya ikut nas Quran dan hadis sahaja. Dan padahal ijmak dan qias itu, keduanya adalah setengah daripada dalil-dalil yang buat menghukum ‘ulama’ dengan dia.”

Tok Bermin membahaskan perkara tersebut dengan panjang lebar dan mendalam menggunakan hujah-hujah yang mantap ditinjau daripada pelbagai ilmu sebagaimana yang digunakan oleh jumhur ulama. Oleh sebab Tok Bermin memang pakar dalam banyak bidang ilmu, terutama ilmu alat, iaitu nahu dan sharaf. Abdullah dan Burhan kurang mengetahui tentang kedua-dua ilmu itu terpaksa diam saja.

Dalam masa yang sama pertikaian khilafiyah menjalar terus termasuk peristiwa Mufti Haji Wan Musa di Kota Bharu, Kelantan, yang terkenal dengan masalah ‘jilatan anjing’. Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau yang menjadi Imam dan Khatib Mazhab Syafie di Masjid al-Haram, Mekah sendiri pernah dilawan oleh muridnya Syeikh Abdul Karim Amrullah.

Hal ini berbeza dengan Syeikh Ahmad al-Fathani kerana beliau tidak pernah dilawan oleh muridnya. Sewaktu pergolakan pemikiran khilafiyah di dunia Melayu, Syeikh Ahmad al-Fathani telah wafat. Bagaimanapun sewaktu permulaan khilafiyah di Asia Barat, iaitu pergolakan pemikiran antara Saiyid Yusuf an-Nabhani (pembantah pertama pemikiran Kaum Tua) di Beirut dengan Syeikh Muhammad Abduh di Mesir (pencetus pemikiran Kaum Muda), muncul peranan Syeikh Ahmad al-Fathani.

Para ulama Mekah telah mengutus Syeikh Ahmad al-Fathani ke Beirut dan Kaherah untuk mendamaikan pertikaian pendapat kedua-dua ulama besar itu. Dalam pertemuan dengan Saiyid Yusuf an-Nabhani mahupun Syeikh Muhammad Abduh tidak terjadi perdebatan antara Syeikh Ahmad al-Fathani dengan kedua-duanya tetapi telah berlaku peristiwa sejarah yang panjang dan menarik.

Penulisan

Tidak banyak dijumpai tulisan Tok Bermin. Beliau lebih banyak mencurah dan menghabiskan masanya mengajar di pondok. Dalam koleksi saya terdapat beberapa judul tulisan beliau, iaitu mengenai Kaum Muda yang segelintir daripada kandungannya diperkenalkan di atas. Karya beliau yang lain ialah yang diberi judul Jawahir al-Kalamiyah, diselesaikan pada Isnin, 11 Zulkaedah 1349H/29 Mac 1931M. Kandungannya mengenai akidah. Cetakan pertama oleh Perkatapan, Kota Bharu, Kelantan, tanpa tahun. Cetakan Patani Press, 15 November 1937 dengan beberapa tambahan. Karya Tok Bermin yang lain ialah al-Qaul al-Mubin, tanpa tarikh. Kandungannya membicarakan fikah.

Tok Syeikh Duyung syeikhul ulama Terengganu

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

SEORANG keluarga Tok Syeikh Duyung ditemu bual di Bukit Bayas, Terengganu. Wan Mohd. Shaghir Abdullah duduk di kanan.

PADA tarikh 13 Februari 2006 di Dewan Al-Muktafi Billah Shah Kolej Ugama Sultan Zainal Abidin (KUSZA), Terengganu telah berlangsung Seminar Kebangsaan Kefahaman Tasawuf Nusantara. Majlis itu dihadiri 1,500 orang. Pada keesokan harinya di dewan yang sama berlangsung pula Peringatan 101 Tahun Kewafatan Syeikh Ahmad Al-Fathani yang diberi judul ‘Ulama Bermesra Sultan dan Rakyat (Syeikh Ahmad Al-Fathani dan Sultan Zainal Abidin III)’.

Peringatan ini adalah atas kerjasama pihak KUSZA dan Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara (PENGKAJI). Saya telah diberi kesempatan memberi ceramah di beberapa tempat di Terengganu yang diatur oleh Jabatan Hal Ehwal Agama Terengganu.

Saya dan PENGKAJI terhutang budi atas kerjasama pihak KUSZA dan Jabatan Hal Ehwal Agama Terengganu. Kami mengucapkan jutaan terima kasih. Selama seminggu di Terengganu saya berkesempatan menziarahi beberapa makam ulama yang bersejarah di Terengganu dan mewawancara beberapa orang.

Wawancara itu bukanlah yang pertama kali di Terengganu, tetapi adalah lanjutan wawancara yang pernah dijalankan tahun 1976. Ulama Terengganu tidak dapat dipisahkan dengan ulama Patani, termasuk yang diriwayatkan ini, yang digelar orang ‘Tok Syeikh Duyung’.

Nama sebenarnya ialah Syeikh Wan Abdullah bin Muhammad Amin bin Ya’qub al-Fathani. Lahir di Cabang Tiga, Patani, tahun 1216 H/1802 M, Allahyarham wafat pada hari Khamis, pukul 4.00 petang, 12 Jamadilakhir 1306 H/24 Februari 1889 M.

Saya terkenang kembali hasil wawancara saya di Terengganu pada tahun 1976, terutama dengan Datuk Sansura Pahlawan, tentang nama ‘Duyung’. Ia mengingatkan saya bahawa Pulau Duyung Kecil menjadi tempat keluarga besar ulama Patani berhijrah akibat perang dengan Siam. Di antara yang berhijrah ialah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, ulama yang banyak menulis kitab yang sangat terkenal itu. Yang digelar ‘Tok Syeikh Duyung’ yang lebih awal ialah Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani yang kemudian lebih dikenali dengan panggilan ‘Tok Syeikh Bukit Bayas’.

Syeikh Wan Abdullah bin Muhammad Amin digelar ‘Tok Syeikh Duyung’ kemungkinan kemudian daripada Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani. Ketiga-tiga ulama yang saya sebutkan iaitu Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim Bukit Bayas dan Syeikh Wan Abdullah bin Muhammad Amin Duyung adalah masih dalam satu lingkungan keluarga yang dekat.

Nama ayahnya ialah Syeikh Wan Muhammad Amin al-Fathani yang digelar dengan ‘Tok Syeikh Qadhi al-Fathani’. Beliau pula ialah anak Wan Ya’qub al-Fathani. Hanya sampai kepada Wan Ya’qub saja nasab dari sebelah ayahnya dapat dikesan. Ibu Tok Syeikh Qadhi (Syeikh Wan Muhammad Amin) bernama Wan Salamah binti Tok Wan Deraud bin Cik Wan Derahim yang kahwin dengan Tok Wan Nik. Ibu Tok Wan Nik ini bernama Wan Dewi binti Tok Kaya Rakna Diraja bin Syeikh Faqih Ali al-Malabari.

Ibu Tok Syeikh Duyung (Syeikh Wan Abdullah) bernama Wan Aminah binti Tok Wan Drahmad bin Tok Wan Derahman bin Tok Kaya Pandak. Tok Kaya Pandak ini nama sebenarnya ialah Wan Ismail bin Nakhoda Wan Kang daripada perkahwinan dengan puteri Laksamana Johor.

Nakhoda Wan Kang yang dimaksudkan di sini adalah nama gelar pada Syeikh Faqih Ali al-Malabari. Ada riwayat menyebut bahawa beliau ini adalah seorang Arab keturunan Nabi Muhammad s.a.w. yang berhijrah ke Malabar (India) dan selanjutnya berhijrah ke dunia Melayu.

Berkahwin

Riwayat yang lain menyebut bahawa beliau berasal dari negeri Bugis. Syeikh Faqih Ali al-Malabari atau Nik Ali atau Saiyid Ali pertama sampai di Johor telah berkahwin dengan puteri Johor bernama Wan Tijah. Mastautin atau tempat tinggal terakhir Syeikh Faqih Ali al-Malabari ialah di Patani.

Keturunan beliau selain menjadi ulama seumpama Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Tok Syeikh Bukit Bayas dan lain-lain, termasuk juga tokoh-tokoh kerajaan seumpama Long Yunus Kelantan.

Tok Syeikh Qadhi al-Fathani (Syeikh Wan Muhammad Amin) adalah seorang ulama yang seangkatan dan sahabat dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Syeikh Wan Mustafa bin Muhammad al-Fathani (Tok Bendang Daya I) ketiga-tiganya adalah ulama besar. Oleh itu Wan Abdullah mendapat pendidikan daripada Tok Syeikh Qadhi al-Fathani, iaitu ayahnya sendiri yang ketika itu tinggal di Kampung Paya Bunga.

Pada masa yang sama Wan Abdullah bin Wan Muhammad Amin bersahabat dengan Saiyid Muhammad Zainal Abidin (Tukku Tuan Besar) dan selanjutnya belajar dengan Syeikh Wan Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani yang pada ketika itu tinggal di Bukit Bayas.

Tok Syeikh Qadhi al-Fathani dan Tok Syeikh Bukit Bayas kedua-duanya mendapat kedudukan yang tinggi pada zaman pemerintahan Sultan Omar Terengganu, bahkan kedua-duanya termasuk guru baginda.

Selanjutnya pelajaran dilanjutkan di Mekah kepada Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Dalam masa yang sama sekurang-kurangnya ada tiga orang yang berasal dari Terengganu yang belajar dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani yang sangat terkenal itu.

Ketiga-tiga mereka kemudian menjadi ulama besar yang terkenal. Mereka ialah Wan Abdullah bin Wan Muhammad Amin, Saiyid Muhammad Zainal Abidin dan Syeikh Mahmud bin Muhammad Yusuf bin Abdul Qadir Terengganu.

Ulama nama yang terakhir ini diriwayatkan berasal dari Kemaman, Terengganu. Beliau merupakan tokoh besar yang menulis salinan karya-karya ulama dunia Melayu. Jumlah manuskrip salinannya seimbang dengan salinan Tok Kelaba yang datang kemudian daripada beliau. Hingga kini belum dijumpai ulama dunia Melayu yang menyalin manuskrip Melayu lebih banyak daripada kedua-duanya.

Setelah pulang dari Mekah pada tahun 1263 H/1846 M, Wan Abdullah bin Wan Muhammad Amin mengambil tempat kedudukan dan pusat aktivitinya di Pulau Duyung Kecil Terengganu. Selain mengajar di Pulau Duyung Kecil, beliau juga mengajar di beberapa tempat di antaranya Paloh, Losong dan Bukit Bayas.

Wan Abdullah bin Wan Muhammad Amin (Tok Syeikh Duyung) seperti ulama-ulama Patani lain tetap mengajar dua jenis kitab, iaitu yang berbahasa Melayu dan berbahasa Arab. Kitab-kitab bahasa Melayu yang diajarkan diutamakan karangan gurunya, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Kitab-kitab bahasa Arab yang diajarkan adalah karangan ulama-ulama yang terkenal dalam pelbagai disiplin ilmu. Yang paling diutamakan dalam tasawuf ialah Ihya’ ‘Ulumid Din oleh Imam al-Ghazali

Murid Tok Syeikh Duyung sangat ramai, termasuk yang datang dari luar Terengganu. Ada yang datang dari Patani, seluruh Semenanjung Tanah Melayu, Sumatera, Jawa, Brunei, Kalimantan dan lain-lain.

Di antara murid Tok Syeikh Duyung yang menjadi ulama besar lagi terkenal ialah Syeikh Abdur Rahman Gudang al-Fathani, Tukku Paloh dan Haji Wan Muhammad (anak beliau sendiri) yang pernah menjadi Mufti Terengganu setelah Tok Syeikh Duyung wafat. Di kalangan Sultan Terengganu yang pernah menjadi murid Tok Syeikh Duyung ialah Sultan Omar dan Sultan Zainal Abidin III.

Baginda Sultan Omar telah melantik Syeikh Muhammad Amin al-Fathani (Tok Syeikh Qadhi) menjadi seorang pembesar negeri. Pada masa pemerintahan Sultan Terengganu itu anak Tok Syeikh Qadhi yang bernama Haji Wan Abdullah (Tok Syeikh Duyung) telah dilantik menjadi kadi, sekali gus menjadi penasihat kepada Baginda Sultan Omar.

Pada waktu yang sama gurunya Tok Syeikh Bukit Bayas menjadi mufti. Selanjutnya setelah gurunya itu wafat, Tok Syeikh Duyung dilantik menjadi Mufti Terengganu mulai tahun 1269 H/1853 M hingga beliau wafat pada tahun 1306 H/1889 M.

Sewaktu berlaku Pemberontakan Besut pada 1874, Sultan Omar telah menugaskan Tok Syeikh Duyung ke Kelantan dengan tujuan supaya Sultan Kelantan menghentikan bantuan kepada pemberontakan itu.

Tok Syeikh Duyung bersama-sama anak beliau Haji Wan Muhammad Wan Abdul Qadir dan angkatan kebesaran yang membawa perutusan berangkat ke Kelantan dengan menaiki gajah. Menurut riwayat, perundingan antara Tok Syeikh Duyung dengan Sultan Kelantan mendatangkan hasil yang memuaskan.

Daripada riwayat itu, dapat disimpulkan bagaimana bijaknya seorang ulama menangani sesuatu isu yang besar sehingga seseorang sultan dapat menerima buah fikirannya seterusnya peperangan terhenti dan perdamaian diperoleh.

Riwayat itu pula adalah bukti iaitu Sultan Terengganu mahupun Sultan Kelantan ketika itu terpaksa akur dan patuh atas besarnya kewibawaan seorang ulama yang bergelar Tok Syeikh Duyung. Riwayat ini pula adalah sebagai bukti karamah Tok Syeikh Duyung. Menurut cerita, sesiapa sahaja yang berjumpa dengan beliau, sama ada disengaja ataupun tidak, akan terpahat pada hati memandang beliau sebagai seorang yang sangat hebat.

Tok Syeikh Duyung selain berwibawa dan dihormati oleh Sultan Omar (Sultan Terengganu) dan Sultan Kelantan, beliau sangat berkesan pada hati seorang muridnya yang menjadi Sultan Terengganu berikutnya, iaitu Sultan Zainal Abidin III. Tok Syeikh Duyung pula sangat kasih kepada muridnya itu sama ada sebelum menjadi sultan mahupun sesudahnya.

Tambatan kasih sayang daripada guru kepada murid atau sebaliknya daripada murid kepada guru dalam istilah tasawuf dinamakan dengan ‘rabithah’. Rabithah yang dimaksudkan telah berlaku antara Nabi Muhammad s.a.w. terhadap para sahabatnya dan sebaliknya.

Sembahyang hajat

Maksud perkataan Saidina Abu Bakar as-Siddiq terhadap Nabi Muhammad s.a.w.: “Aku kasih dalam dunia tiga perkara, duduk bersama-sama Nabi Muhammad s.a.w., membelanjakan hartaku untuk Nabi Muhammad s.a.w. dan mengucapkan selawat atas Nabi Muhammad s.a.w.”

Oleh itu sewaktu pertabalan Sultan Zainal Abidin III menjadi Sultan Terengganu pada 18 Disember 1881, Tok Syeikh Duyung telah melakukan sembahyang hajat dengan doa yang bersungguh-sungguh untuk keselamatan Sultan Zainal Abidin III, semua rakyat dan kerajaan yang di bawah pemerintahan baginda.

Sesuatu pemerintahan Islam akan selamat apabila penguasa tertingginya dapat bekerjasama dengan ulama. Ulama yang membawa selamat dan berkat ialah ulama yang dapat memberi nasihat kepada pemerintah, berani berkata benar walaupun terhadap penguasa yang zalim.

Sesuatu pemerintahan Islam dan rakyat akan binasa apabila para ulamanya tidak berani memberi nasihat yang benar kepada pemerintah. Sesuatu pemerintahan Islam akan lebih binasa apabila pemerintahnya memusuhi ulama yang berani berkata benar seperti yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Syeikh Muhammad Salleh putera penerus warisan Tok Kenali

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

SATU ucapan yang berupa wasiat ibu saya, Hajah Wan Zainab binti Syeikh Ahmad al-Fathani, untuk saya: “Setelah kamu merantau di bahagian Barat Indonesia, mestilah terima ilmu daripada berbagai-bagai orang, sesudah itu tutuplah di Kota Bharu, Kelantan. Di sana cari keturunan Tok Wan Ali Kutan, Tok Kenali dan Nik Mahmud. Tok Wan Ali Kutan adalah ayah saudara ayahku. Tok Kenali dan Nik Mahmud adalah murid ayahku. Keturunan mereka ada yang menjadi ulama, ada yang kaya dan menjadi pembesar. Hendaklah ingat yang golongan ulama mudah kamu gauli tetapi orang kaya dan pembesar sukar kamu dekati kecuali setelah kamu banyak pengalaman. Adab bergaul dengan ulama adalah berbeza dengan adab bergaul dengan orang kaya dan pembesar.”

Pada tahun 1970, saya sampai ke Kota Bharu. Tanpa disedari wang yang tinggal hanya RM1.20. Baju sehelai, celana sehelai dan kain sehelai bukanlah menjadi penghalang untuk saya menyambung silaturahim, mencari ilmu dan menjalankan penyelidikan. Saya utamakan menziarahi makam Tok Kenali, berjalan seorang diri dari Kota Bharu ke Kampung Kenali. Ketika membaca doa di makam Tok Kenali, terlintas di hati, “Ya Allah, sekiranya betul Tok Kenali adalah murid datukku Syeikh Ahmad al-Fathani, dan kedua-dua ulama yang engkau redai, berilah pertolongan kepadaku menjalankan tugas mengumpul dan memperkenalkan ulama di dunia Melayu ini, mulai sekarang dan sepanjang hayatku.”

Selepas ke makam Tok Kenali saya terus mencari rumah Abdullah Al-Qari, penyusun buku Sejarah Hidup Tok Kenali. Beliaulah yang memperkenalkan saya kepada Tuan Guru Haji Ahmad (anak sulung Tok Kenali). Beliau meminta saya menyampaikan ceramah di surau Kampung Kenali, tetapi saya minta tangguh dua malam berikutnya. Ceramah itu merupakan ceramah saya yang pertama di Kota Bharu, Kelantan.

Pada 1979 di Mekah al-Mukarramah, saya menziarah pula anak Tok Kenali yang bernama Syeikh Muhammad Salleh. Di Dar al-Ishlah tempat Syeikh Muhammad Salleh menjalankan pelbagai aktiviti pendidikan dan dakwah, beliau telah mempersilakan saya memberi ceramah. Tamat ceramah, beliau memperkenalkan saya kepada jemaah di Dar al-Ishlah itu, sekali gus beliau meminta kepada jemaah supaya ketika wukuf di Arafah pada tahun 1979 mereka mendoakan khusus untuk saya agar berjaya dalam kerja-kerja penyelidikan dan mendokumentasi seluruh aspek sejarah ulama dunia Melayu.

Saya berkeyakinan bahawa doa jemaah di Dar al-Ishlah pada malam ceramah dan di Arafah tahun itu yang disarankan oleh Syeikh Muhammad Salleh, anak Tok Kenali itu dikabulkan Allah. Barangkali salah satu kesan kabulnya dapat dibuktikan dengan ruangan riwayat ulama berhasil diperkenalkan dalam halaman Agama Utusan Malaysia yang anda ikuti sekarang.

Syeikh Muhammad Salleh Tok Kenali adalah ulama yang ke-106 dalam siri terbitan ini. Beliau lahir di Kampung Kenali, Kelantan tahun 1329 H/1911 M dan wafat di Mekah pada subuh Jumaat 22 Ramadan 1404 H/22 Jun 1984 M.

Sebagaimana abangnya yang sulung, Tuan Guru Haji Ahmad, demikian halnya Syeikh Muhammad Salleh, kedua-duanya mendapat pendidikan dan berkat ilmu daripada ayahnya, Tok Kenali, di Kelantan.

Syeikh Muhammad Salleh melanjutkan pelajaran di Mekah selama lebih 20 tahun. Beliau belajar dengan ramai ulama sama ada ulama-ulama bangsa Arab mahupun ulama-ulama yang berasal dari dunia Melayu.

Menurut riwayat, sebelum berhijrah ke Mekah, beliau telah menguasai banyak bidang ilmu baik ilmu yang diperoleh daripada ayahnya, Tok Kenali, mahupun daripada ulama-ulama Kelantan selain ayahnya.

Syeikh Muhammad Salleh adalah termasuk salah seorang yang rajin belajar, rajin mencatat sesuatu pelajaran malah apa yang dicatatkannya segera dihafal. Yang dihafal pula segera disebarkan.

Dalam penyebaran ilmu, Syeikh Muhammad Salleh tercatat pernah mengajar di Masjid al-Haram, Mekah. Beliau juga mengajar di Dar al-Ishlah, sebuah institusi pendidikan yang beliau asaskan di Mekah. Selain itu, Syeikh Muhammad Salleh Tok Kenali juga rajin mengembara ke seluruh Semenanjung Malaysia dan Singapura kerana menyebar ilmu-ilmu Islam. Beliau mempunyai hubungan silaturahim dengan bekas murid-murid ayahnya.

Penulisan

Syeikh Muhammad Salleh Tok Kenali adalah salah seorang ulama Kelantan yang aktif dalam penulisan. Hasil karya beliau berupa risalah yang sangat banyak jumlahnya. Yang disenaraikan di bawah ini adalah sebahagian kecil, antaranya:

1. At-Thariqatul Ishlahiyah liman Aradad Dun-ya wal Akhirah, diselesaikan di Darul Ishlah, Mekah, pagi hari tarikh 23 Syaaban 1361 H. Dicetak oleh Wah Shong Press, Alor Star (tanpa tarikh). Kandungannya membicarakan wirid pagi dan petang, doa selepas sembahyang, dalam perjalanan, pada hari-hari dan bulan-bulan yang tertentu. Di dalamnya juga disebut doa yang biasa diamalkan oleh Tok Kenali serta satu perisai diri yang diterima daripada Kiyai Shalih al-Juhuri yang sangat terkenal. Menerima pujian daripada Abdul Hadi Kamil Shalih, Batu Kurau, Perak.

2. An-Najmut Thali’ fi Qira-atin Nafi’, diselesaikan pada bulan Syawal 1361 H. Dicetak oleh Mathba’ah al-Hikmah, Kota Bharu, Kelantan. Kandungannya membicarakan ilmu membaca al-Quran/tajwid dan beberapa jenis amalan. Merupakan petikan daripada kitab Fathul Mu’thi, tazkirah dan lainnya. Pada pendahuluan buku ini penterjemah mencatatkan nama guru-gurunya yang beliau belajar ilmu yang tersebut dalam kitab ini. Mereka ialah al-Hafiz Syeikh Nuh, yang wafat pada 20 Rejab 1367 H, Syeikh Ahmad Hijazi, Syeikh Ibrahim Khazami, Syeikh Muhammad Nur Abul Khair, Syeikh Saiyid Muhammad Amin Kutubi, semuanya di Mekah al-Mukarramah, dan Syeikh Hasan asy-Syair di Madinatul Munawwarah, dan lain-lain. Pada halaman 91 dicatatkan nama-nama risalah karya beliau iaitu Al-Hikmah Hajji, At-Thariqatul Ishlah, Kitabus Shiyam, Risalatain Pada Bacaan 'Ashim, Risalah Keselamatan Kaum Ibu, Tarikh Darul Ishlah, Kandung Kemerdekaan, Tazkiratul Ghafilin dan Risalah Bagi Khulashah Faraid.

3. Tazkiratul Ghafilin mim man lahu 'Umril Arba’in, diselesaikan dalam Masjid al-Haram, Mekah, pagi Rabu, 16 Zulkaedah 1369 H. Ditulis kembali pada 29 Rabiulakhir 1370 H. Dicetak oleh Tu Ah Sung Press tanpa tarikh dan nama tempat. Kandungannya membicarakan tafsir beberapa surah dan ayat al-Quran dan syarah beberapa hadis terutama ditujukan kepada orang-orang yang sampai umur 40 tahun. Selain itu ia juga memberi peringatan kepada golongan remaja supaya mempersiapkan diri sebelum dewasa.

4. Al-Mashabih, diselesaikan pada 1 Muharam 1371 H. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 101 Jalan Sultan, Singapura. Kandungannya terdiri daripada beberapa risalah iaitu Syarahan daripada Dar al-Ishlah memberi keterangan sekalian peringkat manusia. Jagaan daripada tablis iblis terjemahan kitab yang sudah berusia 800 tahun. Hadis Nabi daripada Syamail bagi Tirmizi. Beberapa keterangan yang penting untuk orang-orang yang pergi ke Mekah dan keterangan rahsia sekalian Asma’.

5. Risalah ar Rafiqil Watsiq li Rabbil Qarib. Dikombinasikan cetakan karya oleh penulis yang sama, yang berjudul Al-Malja’ min Asyaddil Bala’, diselesaikan pada 28 Muharam 1376 H. Dicetak oleh The United Press, Penang, Maktabah wa Mathba’ah Al-Haji Abdullah Bin Muhammad Nuruddin Ar-Rawa. Kandungannya memperkenalkan terutama 25 amalan hikmah yang berfaedah untuk keselamatan dunia dan akhirat. Dimulai dengan kalimah empat amalan yang penulisnya terima daripada Kiyai Haji Salleh Penghulu Johor. Sesudahnya amalan tahan peluru yang penulisnya terima daripada Haji Muhammad Thaiyib Penghulu Pahang dan lain-lain.

6. Risalah Mekah wal Madinah, diselesaikan pada 10 Zulhijjah 1377 H, ditulis kali kedua pada 20 Zulhijjah 1377 H. Dicetak oleh Mathba’ah The United Press, Pulau Pinang. Kandungannya membicarakan asal Mekah dan Madinah, kelebihan-kelebihan kedua-duanya, nama-nama, tempat-tempat yang terkenal dan lain-lain termasuk Arafah, Mina, Mudzalifah dan lain-lain. Pada pendahuluan terdapat kata-kata aluan Dr. Burhanuddin al-Helmi, tarikh Tanah Melayu, pada 9 Ramadan 1379 H. Dicetak pada bahagian akhir Risalah Perkataan Merdeka. Selesai penulisan pada 28 Muharam 1378 H di Mekah al-Mukarramah.

7. Islam dan Rahsia. Kombinasi cetakan dengan karya Risalah Roh Islam oleh penulis yang sama, diselesaikan pada 27 Ramadan 1379 H. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Hikmah, Kelantan. Kandungannya memberi penjelasan tentang Islam daripada pelbagai aspek seperti sejarah penyebarannya, mundur maju dalam menghadapi pelbagai masalah dan termasuk pemikiran tentangnya. Pada bahagian akhir terdapat berbagai-bagai amalan yang baik dan doa yang makbul dan kaifiat beramal dengannya. Risalah ini diberi Kata Pengantar oleh Haji Encik Ahmad Ismail al-Hikmah (Dato’ Lela Negara Kelantan) pada tarikh Mekah al-Mukarramah, 1 Zulhijjah 1379 M.

8. Risalah Pembinaan Ruhani dan Kebendaan, diselesaikan tanpa dinyatakan tarikh, tetapi pada Kata Pengantar Ustaz Haji Abdur Razaq bin Yusuf, Kuala Terengganu dinyatakan tahun 1393 H/1973 M beliau mendapat keizinan untuk menerbitkan risalah tersebut. Dicetak oleh Percetakan Al-Ahliah, 5509 Jalan Sultanah Zainab, Kota Bharu, Kelantan. Kandungan dimulai dengan Kata Pengantar oleh Ustaz Haji Abdur Razaq bin Yusuf, Kuala Terengganu. Ia memperkenalkan kebaikan-kebaikan Tuan Guru Syeikh Salleh Kenali yang diketahuinya. Kandungan ringkas keseluruhan memberi gambaran keindahan Mekah dan Madinah sejak pemerintahan Raja Abdul Aziz sehingga Raja Faisal. Pada bahagian akhir diiringi dengan bacaan-bacaan di Arafah.

9. Risalah Anwaril Mashabih, diselesaikan pada 17 Jamadilakhir 1399 H. Dicetak oleh Al-Ahliah Sendirian Berhad, Kota Bharu, Kelantan. Kandungannya memperkukuh tiga ilmu iaitu tauhid, fikh, tasawuf dan seterusnya dimulai dengan rangkap syair:

Hadiah kepada para jemaah haji daripada saya, Salleh Kenali:

Cap dengan derma wang diberi,

oleh Dewan Tok Kenali,

Sangat-sangat wajib diamali,

oleh pemuda dan pemudi,

Fahamkan sebelum datangnya mati,

supaya dapat syurga dikehendaki.

Haji Wan Muhammad Al-Kalantani Mufti Kelantan yang ke-IV

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah


SUKAR juga untuk memastikan siapakah ulama yang bernama Muhammad bin Abdus Shamad Kelantan sama ada seorang atau pun dalam masa yang sama terdapat dua orang.

Diriwayatkan bahawa yang seorang dikatakan lahir di Kota Bharu, Kelantan, pada malam Jumaat, 5 Rejab 1287 H/1 Oktober 1870 M. Yang seorang lagi sekurang-kurangnya terdapat tiga buah salinan risalah. Di antaranya ialah salinan Risalah Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah Syeikh Ahmad Khathib Sambas dan Thariqat Syathariyah.

Pada akhir salinan beliau menulis, “Tammat al-kalam bil khair atas tangan faqir al-haqir Muhammad bin Abdus Shamad Kelantan, Kampung Laut di dalam Biladillah al-Haram, Hijrah an-Nabiyi sanah 1294 H.” Sekiranya yang dimaksudkan adalah orang yang sama, maka jelas penyalinan yang dilakukan adalah sewaktu beliau berusia sekitar tujuh tahun sahaja. Ini adalah sangat meragukan, tetapi walau bagaimana pun bukanlah mustahil. Kemungkinan juga sewaktu beliau menyalin itu umurnya lebih dari tujuh tahun sekiranya catatan tahun kelahiran yang disebutkan di atas terjadi satu kekeliruan dan beliau lahir jauh lebih awal dari tahun tersebut.

Oleh sebab sukar mentahqiqkannya, tiada siapa yang dapat dirujuk buat ketika ini, maka sementara waktu saya anggap saja yang bernama Muhammad bin Abdus Shamad Kelantan adalah seorang saja. Sekiranya di belakang hari terdapat data dan fakta bahawa terdapat dua orang yang berlainan maka tulisan ini boleh dipinda kembali.

Nama lengkapnya ialah Wan Muhammad bin Abdus Shamad al-Kalantani. Yang dimaksudkan dengan Abdus Shamad al-Kalantani di sini iaitu Syeikh Wan Abdus Shamad bin Wan Muhammad Shalih al-Kalantani. Beliau pernah digelar dengan “Tuan Kutan” atau digelar juga dengan “Tuan Tabal”. Mengenai beliau (Tuan Tabal) pernah dimuat dalam Bahagian Agama, Utusan Malaysia, Isnin, 4 Oktober 2004, Seksyen 3, hlm. 10. Haji Wan Muhammad pula adalah anak saudara kepada Syeikh Wan Ali Kutan al-Kalantani yang pernah dimuat dalam Bahagian Agama, Utusan Malaysia, Isnin, 27 September 2004, Seksyen 3, hlm. 9.

Ibu Haji Wan Muhammad bernama Wan Kaltsum adalah kakak kepada Syeikh Wan Ali Kutan al-Kalantani. Kedua-duanya adalah anak kepada Haji Wan Abdur Rahman @ Tok Semian (Jurutulis Sultan Muhammad II). Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal al-Kalantani lahir di Kota Bharu, Kelantan, pada malam Jumaat, 5 Rejab 1287 H/1 Oktober 1870 M. Wafat juga di Kota Bharu, Kelantan, pada malam Rabu, 27 Rabiulawal 1339 H/8 Disember 1920 M.

THARIQAT

Wan Muhammad mendapat pendidikan awal daripada ayahnya sendiri. Kemudian ayahnya membawanya ke Mekah ketika dia berusia sekitar 11 tahun pada 1298 H, demikianlah yang disebut oleh Ismail Wang dalam majalah Pengasuh. Tetapi dalam karya yang dinyatakan salinan Muhammad bin Abdus Shamad Kelantan yang tersebut di atas bahawa penyalinan dilakukan di Biladullah al-Haram, yang maksudnya Mekah, pada 1294 H. Jadi pada 1294 H, beliau telah berada di Mekah. Tentang salinan naskhah Thariqat Syathariyah, beliau menyebut Al-Haji Muhammad bin Abdus Shamad Kelantan ditalqin atau dibai’ah oleh Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani ditalqin atau dibaiah oleh Syeikh ‘Ali bin Ishaq al-Fathani. Syeikh ‘Ali bin Ishaq al-Fathani ditalqin atau dibai’ah oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Dan seterusnya kepada yang lebih ke atas.

Ada pun pada bahagian Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, Haji Muhammad bin Abdus Shamad Kelantan tidak menyebut nama gurunya, melainkan langsung saja menyebut salasilah mulai dari Syeikh Ahmad Khathib Sambas, tulisannya, “Adapun salasilah dua tarekat ini, maka terhimpun pada Salasilah Qadiriyah, iaitu Syeikh Ahmad Khathib bin al-Marhum Abdul Ghaffar al-Jawi Sambas. Ia mengambil daripada Saiyid Syamsuddin ...”, dan seterusnya hingga ke atas. Kemungkinan Haji Muhammad bin Abdus Shamad Kelantan sempat menerima tarekat itu langsung kepada Syeikh Ahmad Khathib Sambas, kerana ulama Sambas tersebut adalah seangkatan dengan Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani.

Sebagaimana ulama-ulama dunia Melayu lainnya terutama orang-orang yang berasal dari Kelantan demikian halnya Haji Wan Muhammad Kelantan mengutamakan belajar kepada ulama-ulama Melayu yang terkenal terutama tiga orang, ialah Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani, Syeikh Wan Ali Kutan dan Syeikh Ahmad al-Fathani. Haji Wan Muhammad Kelantan lebih mengutamakan ketiga-tiga ulama tersebut berbanding dengan ulama lainnya lebih-lebih yang ada pertalian kekeluargaan yang sangat dekat dengannya.

Syeikh Wan Ali Kutan adalah ayah saudaranya, iaitu adik kepada ibunya Wan Kaltsum. Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani pula adalah berbiras dengan Syeikh Wan Ali Kutan, kerana terjadi perkahwinan dua orang anak antara kedua-duanya. Syeikh Ahmad al-Fathani pula adalah anak saudara isteri Syeikh Wan Ali Kutan. Isteri Syeikh Ahmad al-Fathani pula adalah anak saudara kepada Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani. Hubungan kekeluargaan ulama ini saya sentuh sambil lalu saja, kerana jika dihuraikan terlalu panjang dan sangat banyak kaitannya dengan ulama- ulama yang lainnya.

Syeikh Wan Ali Kutan, Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani, Syeikh Ahmad al-Fathani ketiga-tiga mereka juga adalah murid dan menerima talqin dan baiah Tarekat Syathariyah kepada Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani, demikian halnya dengan Tuan Tabal yang juga pernah menerima thariqat yang sama daripada ulama Patani itu. Pengakuan Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal menerima Thariqat Syathariyah dalam tahun 1294 H, seperti telah disebutkan, adalah ketika beliau bersama-sama ayahnya, Tuan Tabal, menziarahi Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani, beliau inilah yang dikatakan sebagai “Khalifah Pada Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani”.

Selain mengamal Thariqat Syathariyah, Haji Wan Muhammad Kelantan, ayahnya Tuan Tabal dan saudaranya Haji Wan Musa juga beramal dengan Tarekat Ahmadiyah Idrisiyah yang berasal daripada Syeikh Ahmad bin Idris.

Demikian Syeikh Wan Ali Kutan dan Syeikh Ahmad al-Fathani juga beramal dengan Tarekat Ahmadiyah Idrisiyah. Diriwayatkan pula bahawa Haji Wan Muhammad Kelantan juga mengamalkan “Hizib al-Bahr”. Dapat dipastikan Hizib al-Bahr beliau terima ijazah dari Syeikh Wan Ali Kutan yang sanadnya bersambung hinggalah yang pertama mengamalkannya, iaitu Syeikh Abi Hasan asy-Syazili. Mengenai Hizib al-Bahr, sekali gus Salasilah Thariqat Syaziliyah, yang musalsal (bersambung dari seorang kepada seorang) hingga sampai kepada Nabi Muhammad s.a.w. ada dibicarakan oleh Syeikh Wan Ali Kutan dalam karya beliau Lum'ah al-Aurad.

Sungguhpun Haji Wan Muhammad Kelantan lebih banyak belajar dan mengutamakan golongan keluarga yang terdekat, bukanlah bererti beliau tertutup belajar kepada ulama-ulama lainnya. Selama tinggal di Mekah, Haji Wan Muhammad Kelantan sering mengikuti ayahnya Tuan Tabal pergi belajar kepada ulama-ulama selain yang tersebut itu, termasuk juga kepada ulama-ulama bangsa Arab sendiri seperti Saiyid Abi Bakri Syatha, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, dan lain-lain.

PELBAGAI PELANTIKAN

Ada dua orang anak Tuan Tabal yang pernah menjadi Mufti Kelantan. Mufti Kelantan yang ketiga ialah Haji Wan Musa bin Tuan Tabal yang dilantik pada 10 Rejab 1327 H/27 Julai 1909 M. Selanjutnya Mufti Kelantan yang keempat ialah Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal dilantik pada 22 Syawal 1334 H/21 Ogos 1916 M. Haji Wan Musa bin Tuan Tabal adalah adik kepada Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal tetapi Haji Wan Musa dilantik menjadi Mufti Kelantan lebih dahulu daripada abangnya Haji Wan Muhammad.

Jika kita teliti pemikiran Haji Wan Muhammad dalam pegangan Islam tidak ada perbezaan dengan semua Mufti Kelantan yang terdahulu, kecuali yang berbeza adalah dengan adiknya sendiri Haji Wan Musa. Haji Wan Musa membawa pemikiran cara baru, yang dinamakan “Kaum Muda”. Sewaktu terjadi pertikaian hangat antara “Kaum Tua” dan “Kaum Muda” di Kelantan dalam tahun 1937 M Haji Wan Muhammad telah lama meninggal dunia, jadi beliau tidak terlibat dalam perkara-perkara khilafiyah yang ditimbulkan oleh adiknya, Haji Wan Musa itu.

Sebelum pelantikan menjadi Mufti Kelantan Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal pernah dilantik oleh Sultan Mansur menjadi Imam Masjid Kota Bharu, pelantikan dijalankan pada 15 Jamadilakhir 1314 H. Pada 30 Muharam 1334 H/7 Disember 1915 M Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal dilantik menjadi ahli Majlis Ugama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan.

Setelah itu dilantik pula menjadi Hakim Mahkamah Syariah Kota Bharu, pada 26 Safar 1334 H/2 Januari 1916 M. Beberapa bulan selepas tarikh tersebut barulah beliau dilantik menjadi Mufti Kelantan. Selain pelantikan-pelantikan yang tersebut Haji Wan Muhammad juga pernah dilantik menjadi Ketua Dewan Ulama Kelantan pada 27 Mei 1918 M. Dilantik pula menjadi ahli Majlis Mesyuarat Kerajaan Kelantan oleh Sutan Muhammad IV, pada 27 September 1919 M.

Mengenang perjuangan beliau yang sangat gigih dan keberhasilannya yang demikian menyerlah dan gemilang, Sultan Muhammad IV telah mengurniakan kepada beliau Bintang Seri Mahkota Kelantan (S.M.K). Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal adalah Mufti Kelantan yang pertama memperoleh kurnia bintang yang tersebut. Dalam catatan sejarah perkembangan pesat Islam dalam pelbagai corak aktiviti di Kelantan adalah pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad IV, yang paling gigih berjuang sekurang-kurangnya ada empat orang ulama, ialah Tok Kenali, Datuk Nik Mahmud (Datuk Perdana Menteri Paduka Raja Kelantan), Haji Muhammad bin Muhammad Sa'id (Datuk Laksamana Kelantan) dan Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal (Mufti Kelantan).

Dalam catatan sejarah pula keempat-empat mereka selain mendapat pendidikan dari ramai guru, namun tidak dapat dinafikan yang bercorak pengkaderan khusus, yang membolehkan mereka mempunyai pelbagai kepandaian, pemikiran luas dan berpandangan jauh ke masa hadapan adalah diperoleh dari Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani.

Kemungkinan kerana kesibukan dalam pelbagai tugas jabatan yang disandang oleh Haji Wan Muhammad bin Tuan Tabal hingga kini belum terdapat sesuatu karangan yang dihasilkan oleh beliau. Demikian juga kemungkinan juga beliau tidak sempat mendirikan institusi pendidikan sendiri, hingga kini belum diketahui nama murid yang pernah mendapat pendidikan dari beliau secara langsung. Ini bukan memperkecilkan ulama dan tokoh besar yang dibicarakan, tetapi hanya sekadar membandingkan dengan ayah beliau sendiri Tuan Tabal, bahawa Tuan Tabal menghasilkan beberapa buah karangan, di antara karangan Tuan Tabal ada yang masih diajar dan dirujuk hingga sekarang. Murid-murid Tuan Tabal pula sempat dicatat oleh peminat-peminat sejarah ulama.